Kendalikan Napi dengan Pembinaan Keagamaan

14
pembinaan lapas
DOK/CIANJUR EKSPRES
WARGA BINAAN: Pondok pesantren di Lapas Klas II B Cianjur memberikan berbagai kegiatan keagamaan bagi para warga binaan baik berupa kegiatan mengaji maupun tausiah.

CIANJUR – Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II B Cianjur, Gumilar, mengungkapkan saat ini daya tampung warga binaan lapas masih overload. Namun, pola pembinaan lebih ditekankan supaya lapas tetap terkendali.

Menurut Gumilar, seharusnya satu kamar di lapas diisi oleh tiga orang, namun sekarang bisa sampai 11 orang. Jumlah itu sudah jauh dari batas yang ada. “Tentu itu akan menjadikan permasalahan tersendiri. Tapi Insha Allah dengan pembinaan yang dijalankan bisa tetap tertib dan aman,” kata dia kepada wartawan, Kamis (13/9).

Apalagi, lanjut dia, di Lapas Cianjur diterapkan juga sistem pembinaan melalui pondok pesantren. Hal itu akan lebih memberikan efek pembinaan secara spiritual juga terhadap para warga binaan.

ads

“Ini jadi unggulan yang bisa memaksimalkan pola pembinaan. Jadi selain pembinaan oleh para petugas, juga dibina secara spiritual agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik,” tuturnya.

Gumilar menambahkan, dirinya akan menjalankan beberapa inovasi untuk meningkatkan pembinaan di pesantren tersebut. “Yang sudah berjalan kami akan optimalkan, soalnya ini kan percontohan. Pastinya saya akan tingkatkan lagi pembinaan melalui pesantren ini,” ujarnya.

Pondok pesantren yang diterapkan di Lapas Klas II B Cianjur menjadi sesuatu yang unik. Dimana para warga binaan diberikan pendekataan keagamaan untuk dapat mempertebal iman mereka.

Layaknya di pesantren lainnya, para warga binaan di lapas itu terus diberikan kegiatan keagamaan. Tiada hari tanpa mengaji dan melaksanakan salat dhuha. Tidak heran, jika akhirnya Lapas Kelas II B Cianjur memiliki jam kunjungan yang tergolong siang dibandingkan lapas lainnya.

“Untuk jadwal kunjungan di lapas kami memang paling siang, jam kunjungan baru kami buka pada pukul 10.00 WIB. Sebab, kami laksanakan dulu kegiatan keagamaan seperti tadarus dan solat dhuha,” ungkap Gumilar.

Menurutnya, mendekatkan warga binaan dengan agama menjadi salah satu upaya untuk membina mereka agar kembali ke jalan yang benar. Supaya di dalam lapas, ada sesuatu yang mereka pelajari sehingga membuahkan hasil selepas masa hukuman usai.

Selain itu, warga binaan juga dianggap perlu tetap teguh iman dan pendiriannya selama berada di dalam lapas. Bukan tanpa alasan, saat ini maraknya persoalan narkoba di dalam lapas menjadi perhatian banyak pihak. Begitu banyak faktor yang memungkinkan peredaran narkoba, terjadi di lembaga pemasyarakatan. (bay/yhi)

~ads~
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.