Kemarau Panjang Picu Tanah Merekah, BPBD Cimahi Ungkap Potensi Bahaya Saat Musim Hujan

Ilustrasi: tanah retak gegara gempa bumi. Dok Pixabay
Ilustrasi: tanah retak gegara gempa bumi. Dok Pixabay
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Memasuki musim penghujan, masyarakat Kota Cimahi diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama tanah longsor dan pergerakan tanah.

Kondisi tersebut perlu diantisipasi menyusul perubahan cuaca yang mulai terjadi setelah periode kemarau panjang.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fithriandy Kurniawan, menjelaskan kondisi cuaca saat ini sebenarnya sudah sesuai dengan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kota Cimahi diperkirakan mulai memasuki zona musim basah.

Baca Juga:BPBD Tasikmalaya: Ada 117 Bencana Selama Oktober, Kekeringan Masih MendominasiSiap Bersaksi di Sidang Roy Suryo Cs, Jokowi Bawa Dokumen Ijazah Asli ke PN Jakarta Timur

Menurutnya, BPBD sebelumnya juga telah mengikuti pembahasan bersama BPBD Provinsi Jawa Barat untuk mengantisipasi perubahan musim tersebut. Berdasarkan perkiraan, musim hujan diprediksi berlangsung mulai November 2026 hingga Juli 2027.

“Walaupun kita ketahui, kita perhatikan, curah hujannya itu dibandingkan tahun-tahun lalu lebih lambat datangnya, tapi sekaligus antisipasi kepada masyarakat bahwa curah hujannya itu langsung tinggi,” kata Andi sapaan akrabnya, Jum’at (6/11/26).

Andi menuturkan, masyarakat perlu memberikan perhatian khusus terhadap kondisi geologi tanah, terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan longsor. Pasalnya, periode kemarau sebelumnya berpotensi membuat kondisi tanah menjadi kering hingga mengalami retakan.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko pergerakan tanah ketika hujan dengan intensitas tinggi mulai mengguyur wilayah Cimahi.

“Kering ini terisi oleh debit air yang banyak, maka akan gembur dan menyebabkan gampang longsor. Itu yang harus diantisipasi pertama,” tuturnya.

Selain kewaspadaan terhadap kondisi tanah, BPBD Cimahi juga mengajak masyarakat melakukan langkah antisipasi secara bersama-sama. Salah satunya melalui kegiatan kerja bakti untuk menjaga lingkungan sekaligus meminimalisasi potensi bencana.

Masyarakat juga diminta aktif melaporkan kondisi wilayah yang dinilai rawan, khususnya kawasan tebing, lahan terbuka, maupun area yang berpotensi mengalami pergerakan tanah.

Baca Juga:Personel TNI AL Bergerak ke Jakarta, Ini Penjelasan Resmi KadispenalPGN Perkuat Pengembangan Bisnis dan Operasional Berbasis Energi Rendah Karbon

“Kemudian kondisi lahan terbuka yang kira-kira gampang pergerakan tanah, dan lain sebagainya,” kata Andi menutup. (Mong)

0 Komentar