Harga Minyak Dunia Anjlok, Rupiah Berpeluang Menguat di Tengah Sinyal Damai AS-Iran

Harga Minyak Dunia Anjlok, Rupiah Berpeluang Menguat di Tengah Sinyal Damai AS-Iran
Ilustrasi penguatan uang rupiah terhadap dollar AS. (Foto: ANTARA)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Selasa dengan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Penurunan tajam harga minyak mentah dunia di tengah munculnya harapan penyelesaian konflik antara AS dan Iran menjadi salah satu sentimen positif bagi mata uang domestik.

Pada awal perdagangan, rupiah menguat 7 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp18.149 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp18.156 per dolar AS.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai peluang penguatan rupiah masih terbuka, meskipun ruang apresiasinya diperkirakan terbatas. Penurunan harga minyak dunia yang cukup signifikan dinilai dapat membantu meredakan tekanan terhadap mata uang negara pengimpor minyak seperti Indonesia.

Baca Juga:KPU Tasikmalaya Bekali Seluruh Pegawai Cakap Mengolah InformasiHujan Beberapa Hari Picu Longsor di 16 Desa Tasikmalaya, Jalan Tertutup hingga Rumah Rusak

“Rupiah diperkirakan masih berfluktuatif dalam rentang ketat dengan potensi menguat terbatas didukung oleh penurunan harga minyak mentah dunia yang cukup besar oleh harapan pembicaraan damai Timeng (Timur Tengah),” ucap Lukman dikutip dari ANTARA, Rabu (4/11).

Menurut Lukman, harapan tercapainya kesepakatan damai di kawasan Timur Tengah turut mendorong penurunan harga minyak mentah dan memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan.

Mengutip Anadolu, harga minyak mentah Brent pada Senin (2/11) merosot hampir 8 persen ke level 104,43 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 7,32 persen menjadi 96,50 dolar AS per barel.

Penurunan tersebut terjadi seiring berkurangnya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak global, menyusul perkembangan diplomasi antara Washington dan Teheran.

Optimisme penyelesaian konflik semakin menguat setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Mojtaba Khamenei, dikabarkan menyetujui upaya pemerintah untuk melakukan negosiasi guna mengakhiri konflik.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, juga menyampaikan bahwa Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi telah bertukar pesan dengan pihak AS melalui perantara Qatar di Doha pada Senin (2/11).

Namun, Iran menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada kesediaan Amerika Serikat untuk mencabut blokade angkatan laut terhadap negara tersebut.

Baca Juga:Jaga Harga, Bahlil Minta Pengusaha Nikel Tahan ProduksiEkspor Nonmigas Indonesia Tembus 54,17 Miliar Dolar AS hingga September 2026

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menyebut Presiden Donald Trump masih mengutamakan penyelesaian melalui jalur diplomasi. Meski demikian, Washington belum mengambil keputusan terkait kemungkinan melancarkan serangan baru terhadap Iran.

0 Komentar