JABAR EKSPRES – Pemerintah berencana mengendalikan produksi nikel nasional melalui pengaturan pasokan guna mendorong kenaikan harga komoditas tersebut di pasar internasional. Langkah ini ditempuh menyusul kondisi kelebihan pasokan yang menekan harga nikel global.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, meminta para pelaku usaha pertambangan nikel untuk menahan laju produksi agar keseimbangan antara pasokan dan permintaan dapat terjaga.
Bahlil mengungkapkan, harga nikel saat ini masih berada di kisaran 15.000 dolar AS per ton atau di bawah 16.000 dolar AS per ton. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan nikel dari Indonesia.
Baca Juga:Ekspor Nonmigas Indonesia Tembus 54,17 Miliar Dolar AS hingga September 2026Percikan Las Menyambar Terpal, Fasilitas Wall Climbing Unjani Cimahi Terbakar
Ia menyebutkan, saat ini terdapat kelebihan pasokan nikel di pasar global yang diperkirakan mencapai 800 ribu ton. Situasi ini dinilai perlu direspons melalui pengendalian produksi agar harga komoditas tersebut tidak semakin tertekan.
Sebagai langkah konkret, Bahlil meminta Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, untuk mengoptimalkan pengaturan suplai nikel melalui mekanisme persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB).
“Pak Dirjen, menurut saya, strategi untuk mengendalikan suplai dan demand lewat RKAB untuk di nikel, itu dilakukan, saya yang tanggung jawab. Untuk kebaikan bangsa dan negara enggak usah ragu-ragu,” ujar Bahlil.
Menurutnya, kebijakan tersebut diperlukan untuk menyesuaikan volume produksi dalam negeri dengan kebutuhan pasar dunia. Ia juga menegaskan kesiapannya bertanggung jawab atas penerapan strategi pengendalian pasokan tersebut.
Selain mempertimbangkan stabilitas harga, Bahlil mengingatkan bahwa nikel merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Karena itu, pemanfaatannya harus dilakukan secara terukur dan tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume produksi.
“Nikel kalau diambil, habis, ya nggak bisa ada lagi. Jadi, pengelolaannya betul-betul harus dengan bijaksana,” kata Bahlil.
