JABAREKSPRES – Persoalan polusi udara dan keterbatasan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas melahirkan dua inovasi teknologi dari generasi muda Indonesia.
Siswa SMA mengembangkan dinding lumut pintar untuk membantu memurnikan udara, sementara mahasiswa merancang aplikasi matematika berbasis kecerdasan buatan (AI) bagi siswa tunanetra.
Kedua inovasi tersebut menjadi pemenang pertama Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026. Tim BryotechAlpha dari SMA Negeri 81 Jakarta meraih juara kategori SMA/SMK/MA melalui inovasi AeroSpora. Adapun tim I-SEUNG dari Universitas Komputer Indonesia menjadi juara kategori perguruan tinggi dengan aplikasi NovaSight.
Baca Juga:621 Lulusan FITKes Unjani Diambil Sumpah, Siap Mengabdi di Dunia KesehatanPMB Universitas BTH 2027/2028 Segera Dibuka, Ini Pilihan Bidang Studinya
Kompetisi inovasi berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) itu diumumkan di Jakarta, Selasa (3/11/2026). Tahun ini, penyelenggara menerima lebih dari 4.000 pendaftar dari kalangan pelajar dan mahasiswa.
Kedua tim mengembangkan solusi yang berangkat dari persoalan di sekitar mereka. AeroSpora memadukan kemampuan alami lumut dengan sensor dan kecerdasan buatan untuk memantau kualitas udara. Sementara NovaSight memanfaatkan AI untuk membantu siswa tunanetra memahami materi matematika secara lebih mandiri.
AeroSpora, Dinding Lumut yang Dipantau AI
Tim BryotechAlpha mengembangkan AeroSpora sebagai dinding lumut pintar yang dirancang membantu memurnikan udara di dalam ruangan. Inovasi ini berangkat dari perhatian terhadap persoalan polusi udara di Jakarta.
Tim mencatat konsentrasi PM2.5 di Jakarta mencapai 41 mikrogram per meter kubik pada Oktober 2026. Angka tersebut sekitar 2,7 kali ambang harian 15 mikrogram per meter kubik yang digunakan WHO sebagai pedoman kualitas udara.
AeroSpora menggunakan lumut sebagai penyaring alami. Perangkat ini dilengkapi sensor untuk memantau suhu, kelembapan udara, kelembapan media tanam, serta kadar debu PM2.5 secara real-time.
Data tersebut diolah menggunakan model TinyML pada mikrokontroler ESP32-S3 untuk memprediksi risiko kekeringan lumut. Ketika dibutuhkan, sistem pengabutan otomatis menjaga kelembapan tanaman.
Menariknya, sistem ini juga memanfaatkan air kondensasi dari pendingin ruangan (AC) sebagai sumber air pengabutan.
Baca Juga:ASUS Vivobook S14 Resmi Hadir, Ini Spesifikasi Laptop 1,2 Kg dengan Baterai 20 JamPutusan Sela Batal Demi Hukum Athala Harus Bebas, Pengacara Minta JPU Hormati Keputusan Hakim
Pengguna dapat memantau kondisi perangkat melalui V.E.R.A (Visual Environment Real-time Analytics), sebuah stasiun pemantau yang memanfaatkan tablet bekas. Di dalamnya tersedia pula chatbot edukatif AeroSpora AI.
