Siswa Ciptakan Dinding Lumut Pintar dan Aplikasi Matematika untuk Tunanetra

inovasi dinding lumut pintar berbasis IoT dan AI untuk menyaring udara.
Tim BryotechAlpha dari SMA Negeri 81 Jakarta mengembangkan AeroSpora, inovasi dinding lumut pintar berbasis IoT dan AI untuk menyaring udara.
0 Komentar

Perangkat berukuran 120 x 50 sentimeter tersebut membutuhkan daya 15–25 watt dan diklaim mampu menjangkau ruangan seluas 50–80 meter persegi.

NovaSight Bantu Siswa Tunanetra Belajar Matematika

Berbeda dengan AeroSpora, tim I-SEUNG dari Universitas Komputer Indonesia mengembangkan NovaSight untuk menjawab persoalan akses pendidikan inklusif.

Aplikasi pembelajaran matematika berbasis AI ini dirancang membantu siswa tunanetra memahami materi yang selama ini sulit diakses, terutama grafik dan diagram. Inovasi tersebut berangkat dari wawancara tim dengan siswa dan pihak sekolah di SLB Negeri A Citeureup, Cimahi.

Baca Juga:621 Lulusan FITKes Unjani Diambil Sumpah, Siap Mengabdi di Dunia KesehatanPMB Universitas BTH 2027/2028 Segera Dibuka, Ini Pilihan Bidang Studinya

Tim menemukan bahwa siswa tunanetra masih menghadapi kesulitan memahami representasi visual dalam pelajaran matematika. Di sisi lain, guru juga mengalami kendala ketika harus menilai tahapan pengerjaan soal yang dilakukan siswa.

NovaSight menghadirkan lima fitur utama. Annoter mengubah modul matematika menjadi teks naratif yang dapat dibaca melalui pembaca layar. Scriber membantu siswa mencatat tahapan penyelesaian soal menggunakan papan ketik yang kompatibel dengan teknologi tersebut.

Ada pula Clarifier yang menjawab pertanyaan berdasarkan modul pembelajaran dan sumber tepercaya. Sementara Quizzer membantu guru menyusun soal beserta kunci jawaban, dan Evaluaizer menganalisis tahapan pengerjaan siswa untuk menemukan kesalahan.

Dalam uji coba, siswa tunanetra mampu menjawab empat dari lima soal secara mandiri dalam waktu 15 menit tanpa pendampingan guru.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang disampaikan tim, terdapat 4.229 siswa tunanetra yang bersekolah di SLB di seluruh Indonesia.

Diikuti Lebih dari 4.000 Peserta

Samsung Solve for Tomorrow 2026 mengusung tiga tema, yakni teknologi untuk keberlanjutan lingkungan, teknologi untuk perubahan sosial melalui olahraga, serta transformasi pendidikan melalui STEM dan AI.

Dari lebih dari 4.000 pendaftar, sebanyak 2.600 peserta mengikuti Design Thinking Workshop. Sebanyak 40 tim kemudian melaju ke semifinal dan memperoleh pelatihan teknis AI Amplification.

Baca Juga:ASUS Vivobook S14 Resmi Hadir, Ini Spesifikasi Laptop 1,2 Kg dengan Baterai 20 JamPutusan Sela Batal Demi Hukum Athala Harus Bebas, Pengacara Minta JPU Hormati Keputusan Hakim

Pada tahap akhir, 10 tim terbaik dari masing-masing kategori SMA/SMK/MA dan perguruan tinggi mengikuti penjurian di hadapan dewan juri.

Head of Corporate Marketing Samsung Electronics Indonesia Anggi Paramita mengatakan, kompetisi tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengubah persoalan di sekitar mereka menjadi gagasan dan solusi inovatif.

0 Komentar