Inflasi di Jabar Dipicu Cabai dan Tomat?

Inflasi di Jabar Dipicu Cabai dan Tomat?
Pedagang merapikan cabai di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Rabu (11/2). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dua komoditas pangan, yakni cabai dan tomat disebut menjadi pemicu utama inflasi di Jawa Barat. Hal itu disampaikan Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati di Bandung, Jabar, Senin.

Badan Pusat Statistik (BPS), kata dia, mencatatkan inflasi bulanan (month-to-month/mtm) Provinsi Jabar sebesar 0,2 persen sepanjang Oktober 2026, yang dipicu komoditas cabai dan tomat.

Kemudian untuk inflasi tahun berjalan (year-to-date/ytd) berada di level 2,31 persen, dan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) tercatat sebesar 2,90 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,69.

Baca Juga:Harga Cabai Rawit Meroket, Picu Inflasi Akhir Tahun?Inflasi Naik Jadi 3,28 Persen, Mendagri Minta Daerah Perkuat Pengendalian Harga Pangan

Adapun secara spasial, Ari menyebut bahwa pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK) di 10 kabupaten/kota menunjukkan bahwa inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kota Cirebon sebesar 3,02 persen (IHK 110,89), sedangkan inflasi tahunan terendah tercatat di Kabupaten Majalengka sebesar 2,62 persen (IHK 112,61).

Untuk basis bulanan (mtm), inflasi tertinggi dialami Kota Bogor sebesar 0,35 persen dan Kota Bandung mencatatkan inflasi terendah di angka 0,08 persen.

Kendati begitu, kata dia, capaian ini masih berada dalam rentang sasaran target yang terkendali.

“Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang andil inflasi terbesar pada bulan ini, yakni sebesar 0,12 persen dengan inflasi kelompok mencapai 0,41 persen,” ujarnya, mengutip ANTARA, Selasa (3/11/2026).

Lonjakan harga pada kelompok tersebut didominasi oleh komoditas cabai rawit, cabai merah, dan tomat.

“Kenaikan harga cabai dan tomat ini dipicu oleh keterbatasan pasokan akibat dampak musim kemarau panjang serta serangan hama patek pada tanaman hortikultura,” ucap dia.

Kendati demikian, menurut Ari, laju inflasi secara keseluruhan berhasil diredam oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga.

Baca Juga:Harga Kepokmas di Pasar Tradisional Bandung kian Meroket, Pedagang: Cabai Rawit kini Tembus Rp80 Ribu!Harga Cabai Picu Kenaikan IPH di 309 Kabupaten/Kota, Sumatera Barat Tertinggi

“Di sisi lain, laju inflasi diredam oleh penurunan harga daging ayam ras dan telur ayam ras akibat pasokan yang melimpah, serta emas perhiasan yang mengekor tren penurunan harga emas di pasar global. Sementara, harga beras yang sempat menjadi momok inflasi dalam beberapa bulan sebelumnya, kini mulai menunjukkan tren penurunan pada Oktober 2026,” kata Ari.

Secara rinci, Ari menyebutkan sumbangan andil inflasi tahunan terbesar disumbang oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 1,23 persen, diikuti kelompok transportasi sebesar 0,45 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,37 persen, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,27 persen.

0 Komentar