Penulis: Nadia Rizky Vindiazhari, S.T.,MBA.
Dosen Taruna Bakti University
JABAR EKSPRES – Generasi Z menghadapi dunia yang bergerak semakin cepat. Transformasi digital, persaingan dunia kerja, dan ketidakpastian ekonomi menuntut generasi muda untuk terus mengembangkan kompetensi. Dalam situasi ini, resiliensi, yaitu kemampuan beradaptasi dan bangkit menghadapi kesulitan, menjadi semakin penting. Kemampuan ini merupakan salah satu fondasi ketangguhan dalam menghadapi perubahan dan ketidakpastian.
Namun, resiliensi bukan sekadar kemampuan individu untuk bertahan menghadapi tekanan. Dalam organisasi, resiliensi terbentuk ketika individu dan lingkungannya mampu belajar dari pengalaman, berkolaborasi, serta merespons perubahan secara konstruktif.
Organisasi yang resilien tidak hanya membutuhkan individu yang tangguh, tetapi juga lingkungan yang mendukung pertumbuhan. Budaya kerja yang terbuka terhadap gagasan baru, kepemimpinan yang suportif, dan kesempatan belajar dari kesalahan menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan kolektif.
Lantas, dari mana kemampuan tersebut perlu dibangun?
Baca Juga:Mekar Bersama, PLN Icon Plus Buka Peluang Pasar bagi UMKM Binaan di Puncak HUT ke-26Elektrifikasi Desa dan Pemulihan Pascabencana, BRI Peduli Perluas Akses Energi Surya bagi Ribuan Keluarga
Pendidikan tinggi merupakan ruang strategis untuk mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan tersebut. Perguruan tinggi tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga perlu mendorong mahasiswa berpikir kritis, memecahkan masalah, bekerja sama, dan beradaptasi. Kompetensi tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi dinamika dunia kerja dan berkontribusi dalam organisasi.
Karena itu, pembelajaran perlu menghubungkan teori dengan praktik. Melalui pengalaman menghadapi persoalan, mengambil keputusan, berkolaborasi, dan mengevaluasi hasil, mahasiswa belajar menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata. Proses ini turut membangun kemandirian, tanggung jawab, serta kemampuan belajar dari tantangan dan memperbaiki diri.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, Taruna Bakti University menghadirkan pilihan pendidikan melalui Fakultas Sosial dan Humaniora (Soshum) serta Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek). Mahasiswa juga memperoleh ruang untuk mengembangkan kompetensi di luar kelas melalui organisasi kemahasiswaan,
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dan berbagai program pengembangan mahasiswa. Keterlibatan dalam kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mempraktikkan pengetahuan, mengasah keterampilan komunikasi dan kepemimpinan, serta belajar bekerja sama dan mengelola tanggung jawab. Pengalaman ini melengkapi pembelajaran akademik sekaligus mempersiapkan mahasiswa menghadapi dinamika dunia kerja dan masyarakat.
