JABAR EKSPRES – Pemerintah Kota Cimahi mulai menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi rencana penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti pada akhir 2026. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah terjadinya penumpukan sampah di berbagai wilayah Kota Cimahi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi Chanifah Listyarini mengatakan, pihaknya masih menunggu kepastian dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat terkait batas akhir operasional TPA Sarimukti.
Meski demikian, DLH Kota Cimahi tidak ingin menunggu hingga penutupan benar-benar terjadi. Pengelolaan sampah di tingkat wilayah terus diperkuat agar volume sampah yang dikirim ke TPA Sarimukti dapat ditekan.
Baca Juga:Bandung Barat Ubah Paradigma Pengelolaan Aset, Dari Sekadar Tercatat Menjadi Bernilai ManfaatPanas Bumi Galunggung Dipromosikan untuk Gaet Investor
“Kami masih menunggu kepastian dari Pemprov. Jabar soal kapan batas akhir operasional TPA Sarimukti. Meski demikian, kami harus meningkatkan pengelolaan sampah,” ujar Chanifah, Kamis (8/10/26).
Menurutnya, penanganan di lapangan harus dipersiapkan sejak dini. Penutupan TPA tidak bisa dilakukan secara mendadak tanpa kesiapan sistem pengangkutan dan pengolahan sampah di masyarakat.
“Tidak bisa tiba-tiba pengumuman kepada warga TPA ditutup dan sampah tidak diangkut, pasti akan protes. Karena itu, penataan di lapangan disiapkan sambil terus mengedukasi warga tentang pengelolaan sampah secara mandiri,” katanya.
Berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Cimahi, pengelolaan sampah ditargetkan dilakukan dengan pembagian 60 persen volume sampah dituntaskan di tingkat kelurahan, sementara 40 persen sisanya ditangani DLH Kota Cimahi.
Chanifah menegaskan, pengelolaan sampah sebisa mungkin diselesaikan di wilayah masing-masing. Sampah organik dapat diolah menjadi maggot maupun kompos, sedangkan sampah anorganik yang masih memiliki nilai ekonomi bisa disalurkan ke bank sampah atau pengepul.
Dengan begitu, sampah yang dibawa menuju TPA Sarimukti nantinya hanya berupa residu yang tidak lagi dapat diolah.
“Pengelolaan sampah sebisa mungkin tuntas di wilayah. Silakan sampah organik dikelola menjadi maggot, kompos, dan lain sebagainya. Untuk sampah anorganik yang bernilai ekonomi silakan disetor ke bank sampah atau pengepul, nanti tinggal residu yang diangkut,” jelasnya.
Baca Juga:AQUA DBL Dance Jadi Panggung Anak Muda Ekspresikan Wastra NusantaraKerja ke Jepang Dibuka untuk Perempuan Tasikmalaya, Kuota Hanya 10 Orang
Upaya tersebut turut diperkuat melalui program Sapu Jagat RT atau Sapa dan Peduli Lingkungan Bersama ASN di RT. Dalam program ini, sebanyak 1.728 ASN Pemerintah Kota Cimahi diterjunkan untuk menjadi pembina pengelolaan sampah di tingkat RT di seluruh Kota Cimahi.
