JABAR EKSPRES – Anggota Komisi II DPRD Jawa Barat, Saeful Bachri, menyoroti tingginya harga jagung untuk kebutuhan pakan ayam yang dinilai dapat menekan keberlangsungan usaha peternak rakyat.
Saeful meminta Pemprov Jawa Barat tidak hanya fokus menjaga produksi jagung, tetapi juga memastikan tata niaga dan distribusinya mampu memberikan perlindungan bagi petani sekaligus peternak.
Menurutnya, persoalan harga jagung saat ini cukup kompleks. Di satu sisi, petani membutuhkan harga jual yang menguntungkan, sementara peternak membutuhkan bahan baku pakan dengan harga yang terjangkau agar biaya produksi tetap terkendali.
Baca Juga:Pemerintah Bidik Konten Digital Jadi Sumber Ekonomi?Pengembangan Energi Bakal Manfaatkan Lahan Terdegradasi, Benarkah?
“Petani jagung jangan dirugikan, peternak jangan dikorbankan. Pemerintah harus menciptakan keseimbangan agar keduanya tetap terlindungi,” kata Saeful, Kamis (8/10/2026)
Ia menilai tingginya harga jagung pakan tidak bisa hanya dilihat dari sisi jumlah produksi. Sebab, produksi jagung Jawa Barat justru mengalami peningkatan signifikan.
Data BPS menunjukkan produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen di Jawa Barat pada 2025 mencapai 794,82 ribu ton. Angka tersebut naik 40,85 persen dibandingkan produksi pada 2024 yang mencapai 564,29 ribu ton.
Luas panen juga meningkat dari 77,99 ribu hektare menjadi 108,67 ribu hektare. Sementara potensi produksi pada Januari-Maret 2026 diperkirakan mencapai 330,96 ribu ton.
Namun, peningkatan produksi itu belum sepenuhnya menjamin ketersediaan jagung untuk kebutuhan pakan dengan harga yang sesuai bagi peternak.
Berdasarkan data SIJAGUNG Kementerian Pertanian, Saeful menyebut rata-rata harga pembelian jagung oleh pabrik pakan di Jawa Barat pada Juni 2026 mencapai Rp6.925 per kilogram.
“Artinya, persoalannya tidak tepat kalau hanya disebut Jawa Barat kekurangan produksi jagung. Produksinya ada, tetapi pasokan yang memenuhi spesifikasi pakan, waktu, lokasi dan harga yang dibutuhkan belum tentu tersedia,” ujarnya.
Baca Juga:Harga Cabai Rawit Meroket, Picu Inflasi Akhir Tahun?Investasi Energi Bersih Jadi Peluang Emas bagi Ekonomi RI?
Saeful mengatakan kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan pada rantai pasok jagung, mulai dari distribusi, tata niaga, pengeringan, penyimpanan, konsolidasi petani hingga biaya logistik.
Ia juga mempertanyakan mengapa kenaikan produksi jagung di Jawa Barat belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kemudahan peternak memperoleh bahan baku pakan.
“Jawa Barat merupakan salah satu daerah penghasil jagung yang cukup besar. Karena itu, kita harus bertanya mengapa ketika produksi meningkat, peternak masih kesulitan mendapatkan jagung dengan harga yang terjangkau,” tuturnya.
