JABAR EKSPRES – Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie optimis RI memiliki peluang emas dalam transisi energi bersih. Menurutnya, RI berpeluang kuat menarik keuntungan investasi energi bersih senilai 2,3 triliun dolar Amerika Serikat (AS).
Saat ini, kata dia, transisi energi telah menjadi bagian penting dari daya saing ekonomi, ketahanan energi, hingga strategi industri Indonesia. Alih-alih sebatas agenda perubahan iklim.
“Transisi energi semakin menjadi agenda daya saing ekonomi, ketahanan energi, dan strategi industri, dan hal ini sangat penting bagi Indonesia,” ujarnya, dikutip Selasa (6/10/2026).
Baca Juga:Polisi Datang Bawa Tumpeng, Kejutan HUT TNI di Tasikmalaya Jadi Simbol KekompakanSumur Gali Warga Karangnunggal-Tasikmalaya Mengering, 24 Ribu Liter Air Bersih Didistribusikan
Meskipun dihadapkan dengan ketidakpastian global, perubahan pola perdagangan, dan meningkatnya perhatian terhadap ketahanan energi, ia meyakini bahwa peluang investasi di sektor ini tetap terbuka.
Adapun nilai investasi transisi energi mencapai rekor 2,3 triliun dolar AS pada 2025, dengan kawasan Asia Pasifik menyumbang hampir separuh dari total investasi global.
Bagi Indonesia, peluang tersebut juga dinilai signifikan. Berdasarkan kajian jalur Indonesia menuju net zero diperkirakan menciptakan peluang investasi hingga 3,8 triliun dolar AS sampai 2050.
Anin mengatakan Indonesia memiliki modal yang kuat untuk menangkap peluang tersebut, mulai dari kekayaan mineral kritis, potensi energi terbarukan yang melimpah, pasar domestik yang besar, hingga perkembangan sektor kendaraan listrik, baterai, biofuel, dan panas bumi.
“Hal tersebut menjadi fondasi yang kuat bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah dan membangun industri yang lebih bernilai tinggi dengan emisi karbon yang lebih rendah di dalam negeri,” kata Anin.
Anindya menyampaikan tiga prioritas yang perlu diperkuat Indonesia dalam mendorong transisi energi.
Pertama, transisi energi harus memperkuat daya saing dan ketahanan energi nasional. Transisi tersebut perlu menghadirkan energi yang andal, terjangkau, dan semakin rendah karbon sehingga dapat memperkuat industri, menarik investasi, serta menciptakan lapangan kerja.
Baca Juga:KKP: Agen Penyedia Awak Kapal Perikanan Wajib Legal!Penarikan Fortifikasi Bermasalah Bikin Beras Premium Langka?
Kedua, Indonesia perlu menangkap lebih banyak nilai tambah dari ekonomi energi bersih, dengan bergerak dari sekadar pemasok bahan mentah menuju industrialisasi hijau.
Ketiga, perlu upaya untuk memperkecil kesenjangan antara ketersediaan modal dan proyek yang siap dibiayai. Hal tersebut dapat dilakukan melalui regulasi yang lebih pasti, proyek yang kredibel, penguatan infrastruktur, serta mekanisme pembiayaan yang membuat investasi berkelanjutan layak dibiayai dalam skala besar.
