JABAR EKSPRES – Ambisi pemerintah era Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai swasembada energi melalui sejumlah pengembangan, diklaim tidak akan membutuhkan pembukaan lahan baru.
Alih-alih membuka lahan, pemerintah menyebut pihaknya akan memanfaatkan lahan terdegradasi untuk produksi pangan yang menjadi bahan baku bahan bakar nabati atau biofuel, biodiesel.
Hal itu disampaikan Utusan Khusus Presiden untuk Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral Mari Elka Pangestu dalam Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta, Selasa.
Baca Juga:Harga Cabai Rawit Meroket, Picu Inflasi Akhir Tahun?Investasi Energi Bersih Jadi Peluang Emas bagi Ekonomi RI?
“Kami berkomitmen untuk tidak lagi melakukan deforestasi demi memperluas produksi pangan,” ujarnya, mengutip ANTARA, Rabu (7/10/2026).
Kemudian, kata dia, saat ini Indonesia memiliki lebih dari 12 juta hektare lahan terdegradasi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi pangan dan biofuel.
“Artinya, rencana pengalokasian 2 juta hektare yang diumumkan tahun lalu untuk produksi pangan kini tidak lagi diperlukan,” sambung dia.
Mari Elka juga mengaku bahwa rencana tersebut telah dibahas dengan Menteri Pertanian (Mentan) dan Menteri Kehutanan (Menhut). Dan telah disepakati.
Menurut dia, pemanfaatan lahan tersebut juga akan menjadi bagian dari program Kementerian Kehutanan terkait aforestasi, reforestasi, dan revegetasi. Sekaligus membuka peluang investasi dan kerja sama internasional dalam pengembangan produksi pangan dan biofuel berbasis lahan terdegradasi.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa peningkatan produksi pangan untuk biofuel juga perlu dilakukan melalui intensifikasi dengan meningkatkan produktivitas, ketahanan, dan keberlanjutan secara bersamaan.
Menurutnya, upaya tersebut dapat dilakukan antara lain melalui pengembangan benih dengan produktivitas lebih tinggi yang mampu beradaptasi dengan kondisi air yang lebih terbatas dan suhu yang lebih panas, serta penggunaan pupuk dan air secara lebih efisien.
Baca Juga:Polisi Datang Bawa Tumpeng, Kejutan HUT TNI di Tasikmalaya Jadi Simbol KekompakanSumur Gali Warga Karangnunggal-Tasikmalaya Mengering, 24 Ribu Liter Air Bersih Didistribusikan
Oleh karena itu, ia menilai diperlukan riset dan pengembangan (R&D) serta kerja sama internasional, termasuk pengurutan genom (genome sequencing) untuk menghasilkan benih yang memiliki hasil panen lebih tinggi, tetapi juga tetap mampu beradaptasi dengan keterbatasan air serta iklim yang lebih panas.
Pemerintah Indonesia terus menggenjot biofuel sebagai bagian dari transisi energi bersih sekaligus menekan ketergantungan pada impor bahan bakar fosil.
Saat ini, Indonesia telah menjalankan program biodiesel 50 persen atau B50 sejak Juli lalu dan sedang menyiapkan penerapan bioetanol 20 persen atau E20. Selain itu, pemerintah berencana meningkatkan tingkat campuran menjadi B60 pada tahun depan.
