Untuk mengatasi persoalan tersebut, Saeful mendorong Pemprov Jawa Barat menyusun neraca jagung secara berkala, khususnya bulanan.
Neraca tersebut, kata dia, diperlukan untuk memetakan kondisi jagung secara menyeluruh, mulai dari produksi hingga kebutuhan di tingkat peternak.
Data itu diharapkan mencakup produksi jagung, kebutuhan industri pakan, kebutuhan peternak rakyat, stok, distribusi antarkabupaten/kota, arus jagung yang masuk dan keluar Jawa Barat, kapasitas gudang dan pengering atau dryer, hingga perkembangan harga dari tingkat petani sampai peternak.
Baca Juga:Pemerintah Bidik Konten Digital Jadi Sumber Ekonomi?Pengembangan Energi Bakal Manfaatkan Lahan Terdegradasi, Benarkah?
“Kita tidak boleh mengambil kebijakan berdasarkan asumsi. Pemerintah harus tahu berapa produksinya, berapa kebutuhannya, berapa stoknya, dan ke mana jagung Jawa Barat didistribusikan,” kata Saeful.
Menurutnya, data tersebut juga penting agar kebijakan pemerintah tidak hanya menyelesaikan persoalan harga dalam jangka pendek, tetapi mampu memperbaiki rantai pasok jagung secara berkelanjutan.
Saeful turut meminta agar program intervensi jagung pemerintah benar-benar dirasakan peternak rakyat yang membutuhkan.
Ia mengingatkan jangan sampai program pemerintah hanya terlihat dari sisi angka penyaluran, sementara peternak di lapangan masih menghadapi kesulitan memperoleh jagung pakan dengan harga yang wajar.
Saeful menilai kenaikan harga jagung berpotensi memberikan efek berantai terhadap biaya produksi peternak ayam.
Jagung merupakan salah satu bahan baku penting dalam pakan. Ketika harga bahan baku meningkat, biaya produksi pakan dapat ikut terdorong dan pada akhirnya membebani peternak.
Situasi itu menjadi semakin berat apabila kenaikan biaya produksi tidak diikuti kenaikan harga jual ayam maupun telur.
Baca Juga:Harga Cabai Rawit Meroket, Picu Inflasi Akhir Tahun?Investasi Energi Bersih Jadi Peluang Emas bagi Ekonomi RI?
“Peternak berada dalam posisi yang rentan. Biaya produksi naik, tetapi harga jual ayam dan telur tidak selalu mengikuti kenaikan biaya. Kalau dibiarkan, margin mereka semakin tertekan,” ujarnya.
Dalam kondisi tersebut, Saeful khawatir sebagian peternak memilih mengurangi populasi ayam hingga menghentikan usaha apabila tekanan biaya terus berlangsung.
Menurut dia, persoalan jagung pada akhirnya tidak hanya menyangkut petani maupun peternak. Jika produksi ayam dan telur menurun, pasokan pangan masyarakat juga berpotensi ikut terdampak.
“Jangan sampai masalah pakan menjadi masalah pangan,” tegas Saeful.
