JABAR EKSPRES – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot mengaku akan melakukan percepatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi (migas) RI.
Hal itu disampaikan Yuliot kepada wartawan usai acara ziarah di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Selasa. “Kami memastikan ada percepatan eksplorasi. Nanti juga akan kami berikan kemudahan-kemudahan,” ujarnya, dikutip Rabu (30/9/2026).
Adapun percepatan eksplorasi dan eksploitasi migas tersebut, kata dia, dilakukan menyikapi gejolak geopolitik yang masih tidak menentu. Sehingga berimbas pada kenaikan harga minyak dunia.
Baca Juga:Sumur Mengering, Warga Bojonggambir-Tasikmalaya Rela Antre Demi Air BersihPenerapan Harga Saham Rp1 Bukan Pemicu Anjloknya IHSG, Benarkah?
Menurutnya, terdapat dua strategi untuk melakukan eksplorasi migas tersebut. Yakni dilakukan oleh pemerintah dan eksplorasi melibatkan badan usaha.
Kemudian, Yuliot juga mengaku bahwa pemerintah telah memetakan sejumlah lapangan migas yang akan digenjot prosesnya pada 2027 dan 2028. Dengan potensi produksi sekitar 2.500-3.000 barel per hari.
Percepatan itu, kata dia, dilakukan demi merealisasikan swasembada energi dengan target 1 juta barel minyak per hari pada 2029-2030 mendatang.
“Eksplorasi dan eksploitasi ini kami akan genjot pada tahun 2027 dan 2028 sehingga target kita 1 juta barel itu bisa tercapai,” tutur Yuliot.
Yuliot mengatakan berbagai langkah percepatan tersebut merupakan respons pemerintah terhadap gejolak geopolitik yang menyebabkan naiknya harga minyak dunia. Kementerian ESDM mencatat harga minyak dunia sempat menyentuh 107 dolar AS per barel pada akhir September 2026.
“Karena sebagian besar energi kita yang untuk crude (minyak mentah) itu masih impor, tentu kita harus melihat sumber dalam negeri bagaimana kita meningkatkannya,” ucap Yuliot.
Diwartakan sebelumnya, Iran ingin AS kembali pada nota kesepahaman yang dicapai pada Juni lalu, di mana mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan rencana untuk memulai perundingan nuklir, dengan imbalan sejumlah langkah, termasuk keringanan sanksi, pencairan miliaran dolar dana Iran yang dibekukan di luar negeri, serta penghentian blokade AS.
Baca Juga:PKP Kebut Perbaikan Rutilahu di Jakarta Lewat Bedah RumahTahan BI-Rate, Ekonom Yakini Sektor Riil Tetap Berjalan
Namun, pejabat AS mengatakan Presiden AS Donald Trump tidak lagi ingin kembali pada kesepakatan tersebut. AS juga memperketat sanksi dan mempertahankan blokadenya atas Iran.
Para mediator mendesak Iran memberikan konsesi terkait program nuklirnya dalam upaya menghidupkan kembali negosiasi gencatan senjata dengan Amerika Serikat.
