Namun, beberapa pasien enggan pulang karena merasa khawatir dengan kondisi kesehatannya sehingga meminta tetap dirawat, yang akhirnya berimbas pada penumpukan kapasitas ruang observasi IGD.
Oleh karena itu, Yuli mengimbau masyarakat untuk memahami jalur kegawatdaruratan dan mematuhi triase yang diterapkan.
Terkait solusi atas lonjakan ini, Yuli menilai penambahan tempat tidur dan SDM secara permanen bukan langkah tunggal yang efisien, mengingat siklus melonjaknya kasus bisa saja bersifat sementara dan kembali melandai.
Baca Juga:Perkuat Layanan Jantung, RSUD Welas Asih Hadirkan CPET, Cathlab hingga Rawat Inap VVIPParkir Rp7 Ribu di RSUD KHZ Musthafa Bikin Warga Geram, DPRD Akhirnya Turun Tangan
“Jadi tidak selalu penuh di IGD itu harus ditambah tempat tidur, kan ujungnya ditambah SDM. Nanti malah operasional malah jadi terganggu juga di saat kasus sudah melandai. Jadi memang koordinasi yang paling utama sih, memang melihat secara keseluruhan,” jelasnya.
Guna mengurai kepadatan, manajemen RSUD Otista terus mengoptimalkan alur penanganan bertingkat dan berkoordinasi antarfasilitas kesehatan.
Pasien dengan tingkat gejala yang masih dapat ditangani di faskes tingkat pertama atau RS tipe D diharapkan dapat tersaring sesuai kapasitasnya. Untuk sistem rujukan eksternal, RSUD Otista telah menjalin koordinasi dengan RS Welas Asih serta Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
