Pendekatan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi pelaku usaha lokal. Mereka tidak hanya dituntut memiliki produk, tetapi juga harus mampu menjaga kualitas, volume dan kontinuitas pasokan.
Sebab, kebutuhan MBG membutuhkan rantai pasok yang relatif stabil. Perubahan musim, gangguan produksi, fluktuasi harga dan persoalan distribusi dapat memengaruhi ketersediaan bahan pangan.
Karena itu, pasokan lokal tetap perlu diperkuat dengan jejaring pemasok dan kerja sama antardaerah.
Baca Juga:Ombudsman Bongkar Hunian 'Standar Apartemen' di Lapas Cibinong, Ada Dapur hingga KulkasDua Tahun Berjuang Buka C1 Plano, Sengketa Pemilu 2024 Tasikmalaya Kini Masuk Babak Eksekusi PTUN
Sekretaris Daerah Kota Banjar Dr. H. Soni Harison, A.P., S.Sos., M.Si., C.PHR mengatakan, manfaat MBG yang diharapkan bukan hanya makanan sampai kepada penerima program.
Lebih jauh, aktivitas ekonomi yang berada di belakang penyediaan makanan tersebut juga diharapkan ikut bergerak.
“Yang kita harapkan dari terbentuknya ekosistem rantai pasok ini bukan hanya terpenuhinya kebutuhan pangan untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis, tetapi juga munculnya multiplier effect bagi perekonomian daerah,” kata Soni.
Menurutnya, jika produksi, distribusi, koperasi, UMKM dan pelaku usaha lokal terhubung dalam satu ekosistem, maka terbuka peluang tumbuhnya nilai tambah, aktivitas usaha, kesempatan kerja dan perputaran ekonomi masyarakat.
Dalam skema tersebut, kebutuhan MBG dapat menciptakan permintaan terhadap berbagai komoditas pangan. Petani memiliki peluang memasok hasil pertanian, peternak dapat terhubung dengan kebutuhan protein hewani, sementara UMKM dapat mengambil peran dalam rantai produksi maupun distribusi sesuai ketentuan.
KDKMP juga didorong menjadi salah satu bagian dari ekosistem yang mempertemukan potensi produksi masyarakat dengan kebutuhan ekonomi di daerah.
Namun, keterlibatan tersebut tetap harus menyesuaikan kapasitas koperasi, standar yang ditetapkan dan mekanisme yang berlaku.
Baca Juga:Kenal di Rinjani, Lanjut Naik Kerinci, Pasangan Ini Akhirnya MenikahPolres Tasikmalaya Buka Pendaftaran Binlat Khusus Santri, Ada Syarat Hafal 3 Juz Al-Qur’an
Penguatan ekosistem ini tidak berhenti pada mempertemukan penjual dan pembeli. Tantangan berikutnya adalah memastikan rantai pasok berjalan konsisten.
Pemkot Banjar mendorong pemanfaatan teknologi dan data untuk mempertemukan informasi mengenai kebutuhan, ketersediaan, produksi dan distribusi pangan.
Dengan data yang lebih terintegrasi, pemerintah dan pelaku usaha dapat mengetahui kebutuhan program, potensi produksi serta kemampuan pasokan yang tersedia.
Kota Banjar juga memiliki hubungan ekonomi yang erat dengan wilayah sekitarnya. Karena itu, kerja sama lintas daerah menjadi bagian penting untuk menjaga pasokan apabila kebutuhan MBG tidak seluruhnya dapat dipenuhi produksi lokal.
