Summarecon Bandung Resmikan Liminal Ruang Antara dan Pameran Budi Pradono di dotHub Space

Summarecon
Dok. Masyarakat saat mengunjungi salah satu ruang kreatif baru Liminal Ruang Antara dan Pameran Budi Pradono di dotHub Space, Summarecon Bandung. Sabtu, (12/9). Foto. Sandi Nugraha.
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Summarecon Bandung, kini kembali mempertegas komitmennya dalam mendukung perkembangan industri kreatif di Kota Bandung.

Bekerja sama dengan arsitek ternama Budi Pradono dan Hermawan Tanzil selaku pendiri Dia.Lo.Gue Artspace, Summarecon Bandung, resmi menghadirkan Liminal Ruang Antara dan Pameran Budi Pradono di dotHub Space.

Diresmikan langsung oleh Direktur Eksekutif Summarecon Bandung, Hindarko Hasan, ruang kreatif tersebut diharapkan menjadi langkah strategis Summarecon Bandung dalam merespons identitas Bandung sebagai kota kreatif.

Baca Juga:Dua Tahun Menanti, GPS Bandung Akhirnya Wujudkan Mimpi Tampil di DBLTak Hanya Jago Basket, Kayleen Anfernee Wijaya Juga Pernah Bersinar di Panahan

“Bandung ini sangat identik dengan kreativitas dan ekspresi seni yang tinggi. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menyatukan berbagai potensi kreatif dalam satu kawasan terpadu di Summarecon Bandung,” katanya saat ditemui di lokasi, Sabtu, (12/9).

Sementara itu di tempat yang sama, Arsitek Budi Pradono menjelaskan bahwa konsep perancangan ruang kreatif ini lahir dari kesadaran akan pentingnya sensitivitas seorang arsitek terhadap lingkungan sekitar.

Berbeda dengan tren arsitektur lainnya yang berfokus pada kemewahan atau ketinggian bangunan semata, rancangan kali ini menurutnya justru dibuat menyatu dan terkubur bersama alam sebagai tempat perenungan dan kontemplasi.

“Sejak zaman modernisme hingga dekonstruksi, arsitek selalu berlomba membuat monumen. Namun, kami mencapai satu titik di mana monumen tidak lagi diperlukan. Kita perlu membuat sesuatu yang terkubur agar manusia bisa merenung, menyadari kerentanannya, dan kembali terhubung dengan alam serta yang maha kuasa,” ungkapnya

Budi menambahkan, kehadiran ruang kontemplasi atau meditation space yang bersifat universal di tengah fasilitas publik menjadi poin krusial yang harus terwujud.

Sehingga dengan adanya hal tersebut, kata dia diharapkan mampu menjadi pesan penting bagi para arsitek untuk selalu menciptakan karya yang berdampak positif bagi lingkungan sekitar.

“Jadi tadi itu penting sekali bagi arsitek punya gagasan. Jadi, sejak zaman dulu, zaman modernisme, posmodern, zaman deconstruction architecture, itu semua membuat monumen.Dan saya mencapai satu titik,kita tidak perlu monumen. Makanya membuat sesuatu yang terkubur. Jadi kita perlu merenung untuk menghayati hidup kita,” ungkapnya.

Baca Juga:Semangat Partisipasi Harus Menjadi Pondasi dan Mimpi Meraih PrestasiPraktik Ketenagakerjaan Produktif Perlu Diperluas, Kemnaker Dorong Budaya Kerja Inklusif

Sedangkan menurut Pendiri Dia.lo.gue, Hermawan Tanzil, sebagai desainer, orientasi utama karya ini bukan sekadar bisnis atau branding, melainkan upaya memberikan nilai positif bagi masyarakat luas melalui pemikiran desain.

0 Komentar