Yanuar Baswata, Jabar Ekspres, Sumedang
USIANYA tak lagi muda, tapi jiwa usahanya masih tetap konsisten hingga memberikan peluang bagi sanak keluarga. Berawal dari jualan basreng keliling hingga kini mempunyai tempat produksi sendiri dan produknya dijual oleh ratusan pedagang.
Dia bernama Ceceng Ismail (57), warga Dusun Bunter, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Dalam berusaha di bidang makanan, pria paruh baya itu melakoninya secara sabar dan konsisten. Seperti peribahasa, “sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit”.
Sejak sekira 2007 lalu, Ceceng jatuh bangun dalam mengais rezeki. Dia melakoni semua yang dianggap dapat menghasilkan, mulai dari jualan asongan, gorden dan lainnya hingga berujung menjual basreng.
Baca Juga:Perajin Sepatu Cibaduyut Berjuang Melawan Produk ImporTahu Cibuntu: Warisan Tak Benda yang Terus Menggugah
“Waktu awal di basreng, saya justru enggak menjual keliling, tapi beli barang dari Sukabumi, paling 10 kilogram,” katanya ketika dijumpai Jabar Ekspres pada Senin (7/9/2026).
Mengenakan pakaian sederhana, kaos lengan panjang, topi hitam dan celana pendek. Ceceng menceritakan bahwa basreng yang dibelinya dari orang lain itu, ia jual kembali ke pedagang keliling.
Mengambil sedikit keuntungan, namun Ceceng yakin jika dilakoni secara konsisten maka dirinya dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Dia pun mulai menjual barang yang dia beli kepada lebih dari lima pedagang keliling.
“Moles aja ambil untungnya. Tapi kemudian perjalanan enggak lancar, akhirnya usaha gak panjang, sampai saya sendiri aja yang berjualan keliling pakai gerobak,” ujarnya.
Ceceng yang kala itu tetap menggeluti usaha basreng, mulai mengajak beberapa orang untuk ikut berjualan bersamanya. Setiap ada yang tertarik ingin menjual basreng keliling, dia berikan gerobak dan area jualan miliknya.
“Nah saya buat roda baru lagi, bikin sendiri karena enggak punya modal. Roda yang baru saya pakai buat keliling sendiri,” jelasnya dengan posisi duduk bersandar di kursi.
Sekira pukul 12.30 WIB, Ceceng mengajak Jabar Ekspres ke tempat produksi basreng miliknya. Dalam pantauan terlihat tumpukan aci berkarung-karung, mesin giling, timbangan hingga lemari pendingin penyimpan ikan.
Baca Juga:Dodol Tekkie TQ dan Kue Keranjang yang Tak Lekang ZamanTempe Mengecil, Harapan Tetap Besar: Cara Perajin Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Kedelai
Basreng hasil olahan yang sudah jadi tampak siap diedarkan, ratusan atau mungkin ribuan butir menumpuk di atas meja. Pekerjanya bergantian membungkus basreng lalu menimbangnya sesuai pesanan.
