Sempat Jual Rumah dan Tidur di Masjid, Ceceng Bangkit dari Jual Basreng Keliling hingga Produksi 600 Kg Sehari

Sempat Jual Rumah dan Tidur di Masjid, Ceceng Bangkit dari Jualan Basreng Keliling hingga Produksi 600 Kg per
Ceceng Ismail (57) saat memperlihatkan hasil produksian basreng miliknya di pabrik yang berlokasi di Dusun Bunter, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. (Yanuar Baswata/Jabar Ekspres)
0 Komentar

Ketika mengawali berjualan basreng, jangankan produksi sebanyak ini. Ceceng hanya mampu berkeliling membawa gerobak, dengan jumlah tak sampai lebih dari 10 kilogram basreng yang dibawanya.

“Waktu coba merintis beli barang dari orang terus saya jual keliling dan ada beberapa anak buah, sempat terlilit hutang sampai akhirnya usaha saya bangkrut,” bebernya.

“Waktu itu awalnya mau beresin rumah jadi pinjam uang, lalu ternyata kondisi usaha banyak persoalan, penjualan menurun, lalu saya putuskan jual rumah dan lunasin hutang,” lanjut Ceceng.

Baca Juga:Perajin Sepatu Cibaduyut Berjuang Melawan Produk ImporTahu Cibuntu: Warisan Tak Benda yang Terus Menggugah

Pandangannya menengok langit-langit rumah, Ceceng mengerenyitkan kening menandakan sedang mengingat memori yang dialaminya ketika merintis usaha basreng.

Tak sebatas jatuh bangun dalam usaha, namun kondisi terpuruk sempat dialaminya hingga Ceceng tidur dimana pun tempat yang bisa dipakai beristirahat.

“Rumah gak punya, istri dan anak pulang dulu ke rumah mertua, saya sampai pernah tidur dimana aja, di masjid seringnya,” tutur Ceceng.

Dia mengaku, dalam perjalanan usahanya tak ada ambisi besar yang ditargetkan namun keinginannya sederhana, yakni mencukupi kebutuhan keluarga dan hidup tenang tanpa hutang.

“Gak ditarget harus gini harus gitu. Saya lurus aja ikhtiar usaha berjualan. Saya kembali jual basreng keliling lagi,” ujar Ceceng.

Seiring waktu, beberapa orang berminat berjualan basreng bersama Ceceng. Tak mau menutup jalur rezeki orang lain dan tidak khawatir usahanya tersaingi.

Ceceng pun membantu orang-orang yang berkeinginan berjualan basreng, diberikan gerobaknya, dimodali barang jualannya, hingga jalur titik-titik area kelilingnya.

Baca Juga:Dodol Tekkie TQ dan Kue Keranjang yang Tak Lekang ZamanTempe Mengecil, Harapan Tetap Besar: Cara Perajin Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Kedelai

“Saya enggak takut rugi, gak usah takut tersaingi. Kalau udah usaha dapetnya ‘segini’ ya berarti jatah rezekinya ‘segitu’, jadi jalanin saja,” ungkap Ceceng sambil tersenyum dan membenarkan topi hitamnya.

Usaha basreng yang dijalani Ceceng pun terus berjalan dan sedikit demi sedikit berkembang. Dari barang yang dibelinya melalui orang lain, pria asal Dusun Bunter itu pun berinisiatif membuat produk basreng sendiri.

Percobaan demi percobaan dilakukan, tanpa ada mentor atau pelatihan Ceceng terus mencoba membuat basreng dengan resep yang dia ketahui.

“Saya tahunya ikan giling, aci tambah garam dan micin. Takarannya enggak tahu, perbandingan bahan satu dengan bahan lainnya juga enggak tahu, saya coba aja racik,” paparnya.

0 Komentar