“Gagal banyak, aduk sendiri lagi sampai akhirnya saya punya takaran sendiri. Dulu diaduk manual, membentuk basreng supaya bulat juga pakai sendok,” tambah Ceceng.
Produksi awal hanya 10 kilogram, seiring waktu pembuatan basreng di Dusun Bunter itu semakin banyak dan kini dapat memproduksi sebanyak lima sampai enam kuintal, alias 500 hingga 600 kilogram per harinya.
Ceceng menjadi bukti peribahasa “Usaha Tak Mengkhianati Hasil”. Konsistensi, sabar dan tak berubahnya gaya hidup mengantarkan bisnis basrengnya terus berkembang.
Baca Juga:Perajin Sepatu Cibaduyut Berjuang Melawan Produk ImporTahu Cibuntu: Warisan Tak Benda yang Terus Menggugah
Sebanyak 100 penjual basreng keliling sudah erat hubungannya dengan Ceceng, mereka pedagang asal Garut. Setiap hari pengiriman produk dikirim, hanya kepada pedagang keliling dan tak mau disimpan atau dijual ke pasar-pasar.
Omzet yang dihasilkan kini mencapai Rp10 juta per hari, penghasilan bersih yang diterima Ceceng sekira Rp2 juta per harinya.
Tak sebatas mengutamakan kuantitas dalam memproduksi basreng, Ceceng tetap mengutamakan kualitas dengan tujuan agar aman bagi konsumen serta tetap enak untuk dikonsumsi.
“Kalau basreng produksi saya enggak pakai pengawet, jadi saya enggak kirim ke pasar. Saya juga produksinya enggak berlebih biar setiap hari barang yang dijual fresh, produksian baru, biar enggak bau dan aman dikonsumsi,” imbuhnya.
Menariknya, Ceceng tak mau berhasil sendirian. Dia pun merangkul keluarga dan saudaranya untuk turut menjalankan usaha produksi basreng.
“Adik juga sekarang punya produksi, menantu juga alhamdulillah berjalan produksian basrengnya,” pungkas pria paruh baya yang berhasil merintis usaha basreng asal Dusun Bunter tersebut. (Bas)
