JABAR EKSPRES — Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada 4–6 September 2026 telah berhenti.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan meski erupsi menerus tersebut telah berhenti, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga).
“Jadi, Gunung Api Anak Krakatau masih dalam Level III, status Siaga. Erupsi menerus yang terjadi pada 4 September sampai 6 September sudah berhenti pada 6 September 2026, tepatnya pukul 00.04 WIB,” ujar Lana saat ditemui di Kantor Badan Geologi Kementerian ESDM, Kota Bandung, Selasa (8/9/2026).
Baca Juga:Groundbreaking pada Desember 2026, Proyek PSEL Semarang Raya Targetkan Olah 1.000 Ton Sampah Jadi ListrikBupati Cecep Harapkan BKPRMI Ikut Bentuk Masa Depan Pemuda Tasikmalaya
Menurut Lana, setelah erupsi menerus berhenti, Gunung Anak Krakatau kini kembali memasuki fase dengan karakter Strombolian. Fase tersebut ditandai dengan erupsi beramplitudo tidak terlalu besar, berlangsung singkat, dan hanya terjadi selama beberapa detik.
“Kondisi ini terjadi pada 8 September. Dalam analisis kegempaan kami, masih terdapat aktivitas fluida di dalam tubuh gunung api tersebut,” ungkapnya.
Meski demikian, potensi bahaya akibat sebaran abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau masih perlu diwaspadai.
Lana menjelaskan, berdasarkan data dan informasi yang terekam, Gunung Anak Krakatau telah mengalami delapan kali erupsi dengan rentang waktu sekitar 10–15 detik.
“Untuk penyebaran abu vulkaniknya tidak melebihi 3 kilometer. Kita masih menetapkan radius aman dari pusat aktivitas yang tidak boleh dimasuki,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebaran abu vulkanik tetap bergantung pada arah angin, kondisi kolom udara atau plume, serta intensitas erupsi yang terjadi.
“Namun, bila erupsi ini sudah kembali pada fase Strombolian, tentunya penyebaran abu vulkanik tidak terlalu panjang, tidak seperti yang terjadi pada fase 4 sampai 6 September kemarin,” pungkasnya.
(San)
