Risiko Plagiarisme
Di sisi lain, Ahmad mengakui perkembangan AI juga menghadirkan tantangan terhadap integritas akademik, termasuk potensi plagiarisme dan pelanggaran etika dalam karya ilmiah.
Ia menjelaskan, pemerintah memiliki peran regulatif melalui berbagai aturan mengenai integritas akademik dan akreditasi jurnal. Regulasi tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman bagi sivitas akademika dalam menggunakan AI.
Selain itu, terdapat mekanisme pelaporan terkait dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika melalui ANJANI.
Baca Juga:Dari Sampah Jadi Energi, Strategi Jateng Kelola Ribuan Ton Sampah Berbuah PenghargaanNo Tipu-Tipu Club! JetZrek-in Aja Bareng Hearts2Hearts Buat Tunjukin Jati Diri Lo Sesungguhnya
“Untuk membuat regulasi-regulasi di kementerian itu di antaranya adalah permen tentang integritas akademik, tentang yang terkait dengan akreditasi jurnal,” ujarnya.
Sementara itu, Anggota Komisi X DPR RI M. Hoerudin Amin mengatakan perkembangan AI harus diiringi dengan “ruang pemandu” agar teknologi tersebut tidak digunakan tanpa mempertimbangkan aspek etika dan kebenaran informasi.
Ia mencontohkan penggunaan AI dalam bidang keagamaan. Menurutnya, masyarakat kini dapat menemukan berbagai layanan berbasis AI yang memberikan informasi keagamaan, termasuk terkait Al-Qur’an.
“Bayangkan di kita ini banyak ustaz-ustaz AI gitu. Para hafiz AI, hafiz Quran. Bayangkan ustaz-ustaz AI, dia menggunakan data yang tergantung orang memasukkan datanya. Bisa menyesatkan orang banyak itu,” kata Hoerudin.
Menurutnya, berbeda dengan manusia yang masih dapat dikoreksi melalui proses dialog, AI dapat menyampaikan informasi berdasarkan data yang diberikan kepadanya.
Kondisi tersebut membuat aspek etika menjadi penting dalam pengembangan dan pemanfaatan AI.
Karena itu, ia menilai etika Islam dapat menjadi salah satu pedoman untuk memastikan perkembangan teknologi tetap memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
Baca Juga:RSUD Ciamis Gratiskan Biaya Perawatan Balita Gizi Buruk, Hasil Pemeriksaan Holistik Masih DitungguPolres Tasikmalaya Ungkap Kasus Curanmor, 3 Tersangka Diamankan
“Memasukkan etika Islam dalam konteks bagaimana dia bisa menjadi pemandu teknologi di zaman AI ini,” ujarnya.
Hoerudin juga menekankan bahwa kemajuan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan keagamaan, tetapi membutuhkan penguasaan sains dan teknologi. Menurutnya, kedua aspek tersebut harus berjalan beriringan.
Ia berharap penguasaan sains yang dibarengi pemahaman agama dapat melahirkan sumber daya manusia yang mampu memberikan manfaat bagi kehidupan dunia sekaligus memiliki nilai moral dan spiritual.
Dorong Mahasiswa Aktif Riset
