BPS Ciamis Ungkap Penyebab Data Desil Tak Sesuai Kondisi Ekonomi, Warga Bisa Sanggah via Aplikasi

Ramai Keluhan Soal Desil DTSEN, Pemerintah Tunggu Hasil Sensus Ekonomi 2026
Ramai Keluhan Soal Desil DTSEN, Pemerintah Tunggu Hasil Sensus Ekonomi 2026
0 Komentar

“Kalau memang merasa tidak sesuai, masyarakat sangat kami persilakan untuk melakukan sanggah. Pengajuannya bisa dilakukan melalui aplikasi Cek Bansos,” katanya.

Lebih jauh, Nur Azizah juga menyoroti pentingnya menjaga kerahasiaan data kependudukan, terutama Nomor Induk Kependudukan dan Kartu Keluarga. Ia mengingatkan bahwa dokumen tersebut tidak boleh sembarangan diberikan atau difotokopi kepada pihak yang tidak bertanggung jawab, karena berpotensi besar disalahgunakan. Data NIK dan KK, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan tanpa sepengetahuan pemiliknya, mulai dari transaksi kendaraan, pembelian tanah, hingga pembukaan rekening bank. Bahkan, ia menyinggung adanya kasus penyalahgunaan data untuk penampungan rekening yang terkait dengan judi online, sehingga kewaspadaan ekstra sangat diperlukan.

“Jadi kerahasiaan data NIK dan KK harus diperhatikan. Sebisa mungkin jangan sembarangan memberikan atau memfotokopi data tersebut,” ujarnya tegas.

Baca Juga:Bukan Sekadar Seremonial, KNPI Cianjur Pastikan Program Kepemudaan Tepat Sasaran dan TerukurKebakaran TPA Cioray Mangunreja, Api Masih Dalam Proses Pemadaman

Nur Azizah juga menegaskan bahwa data desil bukanlah sesuatu yang bersifat permanen. Posisi seseorang dalam kelompok desil dapat berubah seiring dengan perubahan kondisi sosial ekonomi dan pembaruan data yang dilakukan secara berkala. Ia memberi contoh, seseorang yang dulunya memiliki kondisi ekonomi baik rumah bagus, pekerjaan mapan, dan kendaraan tiba-tiba mengalami kebangkrutan. Setelah mengajukan pembaruan data dan melalui verifikasi, posisi desil orang tersebut bisa turun secara signifikan. Sebaliknya, bagi masyarakat yang kondisinya sudah membaik dan tidak lagi membutuhkan bantuan sosial, diharapkan untuk menyampaikan perubahan tersebut kepada pemerintah desa agar bantuan dapat dialihkan kepada warga lain yang lebih membutuhkan.

“Namanya desil, datanya akan terus dinamis. Misalnya dulu kondisi ekonominya bagus, kemudian bangkrut. Setelah mengajukan pembaruan data dan diverifikasi, desilnya bisa turun,” jelasnya.

Ia menggambarkan sistem desil seperti sistem peringkat atau ranking. Ketika satu orang mengalami perubahan posisi dalam urutan data, maka posisi orang-orang lain di sekitarnya juga ikut bergeser. Karena itu, ia berharap masyarakat tidak terpaku pada satu angka desil, melainkan lebih fokus pada proses pembaruan data yang akurat dan berkelanjutan. Dengan demikian, program bantuan sosial dapat tepat sasaran dan dirasakan oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.

0 Komentar