JABAR EKSPRES, KABUPATEN BANDUNG – Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026 bukan sekadar ajang pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode mendatang.
Bagi Bupati Bandung sekaligus Ketua DPC PKB Kabupaten Bandung, Dadang Supriatna, Muktamar NU ke-35 ini adalah momentum menentukan arah perjuangan organisasi Islam terbesar di Indonesia untuk lima tahun ke depan.
“Siapa pun yang kelak terpilih menjadi Ketua Umum PBNU, harus diterima sebagai pilihan terbaik melalui mekanisme Muktamar. Boleh berbeda pandangan sebelum pemilihan. Namun setelah keputusan diambil, tidak boleh lagi ada kubu calon A, B, maupun C. Yang ada hanyalah satu: Nahdlatul Ulama,” ujar Dadang Supriatna saat dimintai pandangan terkait pelaksanaan Muktamar kali ini, Jum’at (28/8/2026).
Baca Juga:Perbarindo Jabar Gelar Turnamen Olahraga dan Seni, Komisariat Subang-Purwakarta Raih Juara UmumRiezka Rahmatiana Dorong Jabar Jadi Sentra Bawang Putih yang Mandiri
Bupati yang akrab disapa Kang Dadang Supriatna (KDS) itu mengingatkan, siapa pun yang menang, tidak boleh jumawa. Begitu pula, pihak yang kalah tidak perlu kecewa berkepanjangan.
Sebab, lanjut KDS, yang dipertaruhkan bukan sekadar jabatan, melainkan masa depan organisasi yang memikul tanggung jawab atas kemaslahatan umat dan bangsa.
“Harapannya, Muktamar Jombang menjadi muktamar persaudaraan, bukan muktamar pertarungan,” ujar KDS.
Pernyataan KDS itu sejalan dengan pesan yang disampaikan mantan Wakil Presiden RI sekaligus Ketua Dewan Penasihat PBNU, KH Ma’ruf Amin, yang menekankan bahwa kepemimpinan NU harus mampu menjalankan fungsi al-islah wal-ishlah — mendamaikan pihak yang berselisih sekaligus menyatukan seluruh potensi organisasi.
KDS menegaskan, tugas NU terlalu besar untuk dijalankan dalam keadaan terbelah. Saat ini pengaruh NU tak lagi sebatas pesantren atau lingkungan pedesaan Jawa semata, melainkan telah tumbuh menjadi kekuatan sosial, keagamaan, pendidikan, kebudayaan, hingga intelektual yang ikut membentuk wajah Indonesia.
Oleh karena itu, kata Bupati Bandung, sosok pemimpin NU mendatang tak cukup hanya mampu mengelola organisasi. Ia wajib membawa NU menjawab tantangan zaman.
“NU harus tetap menjadi benteng Islam yang damai dan moderat. Namun di saat yang sama, lahirlah pemikir Islam yang maju, terbuka, modern, dan mampu membaca masa depan,” ucapnya.
