Hasilnya adalah biogas dengan kemurnian tinggi yang menghasilkan api biru dan aman bagi peralatan logam. “Biogas yang sudah dimurnikan bisa langsung disambungkan ke kompor khusus dengan sedikit modifikasi burner untuk menggantikan LPG di rumah tangga. Dalam skala lebih besar, bisa untuk genset hingga bahan bakar kendaraan,” ujar Rahmat.
Ia sendiri pernah mengoperasikan genset 5 kilowatt menggunakan biogas. Potensi penerapan sangat bergantung pada volume bahan baku. Semakin besar volume sampah organik yang diolah, semakin besar pula biogas yang dihasilkan.
Dengan pendekatan yang adaptif dan berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat, program PM SITH dan FTI ITB ini diharapkan menjadi model pengolahan sampah organik yang berkelanjutan di tingkat lokal. Sekaligus, program ini berkontribusi mengurangi beban pengelolaan sampah di Kota Bandung secara keseluruhan. (bbs)
