Dosen SITH dan FTI ITB Kembangkan Teknologi Olah Sampah Organik Adaptif bagi Warga

Sampah organik
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat (PM) SITH ITB Anriansyah Renggaman, saat menjelaskan pengembangan skema bottom-up untuk pengolahan sampah organik di Instalasi Pengolahan Sampah Terpadu (IPST) ITB, Sabtu (22/8/2026).
0 Komentar

“Kalau warga ingin sistem komunal 100 kilogram per minggu, kami bantu rancang. Target kami adalah kebutuhan riil di tingkat rumah tangga dan RT/RW,” kata Anriansyah.

Transfer teknologi dilakukan melalui diskusi intensif bersama warga. Tim siap membantu merancang sistem sesuai dana yang dimiliki masyarakat. Meski demikian, penyediaan sumber daya secara penuh akan diseleksi berdasarkan tingkat urgensi kebutuhan di lapangan.

Kerja sama dengan pemerintah tidak bersifat langsung. Program ini lahir dari permintaan Pemerintah Kota Bandung dan Provinsi Jawa Barat kepada DPMK ITB terkait isu sampah. DPMK kemudian menyediakan dana bagi dosen untuk mengembangkan teknologi alternatif yang dapat dipilih warga. Kerja sama ITB dengan Pemkot Bandung dan Pemprov Jabar tetap terjalin melalui lembaga tersebut.

Baca Juga:Limbah Sawit Diolah Jadi Briket Pupuk Organik, Tim ITB Dorong Rekayasa Lahan Marjinal di Gunung HalimunKuasa Hukum Ade Kunang Siapkan Duplik, Tegaskan Uang Sarjan Sudah Dicicil Rp1 Miliar

Sartika Indah Amalia Sudiarto, S.Si., M.Sc., Ph.D., dosen anggota tim SITH, menuturkan bahwa minat warga dari tiga kelurahan ternyata tidak seragam. Warga Tamansari yang sudah memiliki sistem pembuatan pupuk organik lebih tertarik pada biogas. Sebaliknya, warga Cipaganti dan Lebak Siliwangi memilih teknologi produksi pupuk organik karena lebih sederhana dan langsung bisa diaplikasikan pada tanaman.

“Hanya dari tiga kelurahan sekitar kampus saja, kebutuhannya sudah berbeda-beda. Makanya diskusi langsung dengan warga sangat penting agar kita bisa merancang jalan tengah antara kebutuhan mereka dan teknologi yang kami miliki,” papar Sartika.

Kata Sartika, pendekatan partisipatif ini menjadi kunci keberhasilan program. Dengan melibatkan warga sejak awal, teknologi yang diterapkan diharapkan benar-benar sesuai dan berkelanjutan.

Biogas Bisa Mengganti LPG hingga Operasikan Genset

Dr. Rahmat Romadhon, ST, MT, dosen Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB yang menangani aspek biogas, menjelaskan bahwa salah satu hasil pengolahan sampah organik adalah biogas sebagai sumber energi. Namun biogas mentah mengandung CO₂ sekitar 30–35 persen dan H₂S yang harus dimurnikan agar dapat digunakan secara optimal.

CO₂ mengurangi nilai kalor sehingga api berwarna merah dan kurang panas, sementara H₂S menimbulkan bau telur busuk sekaligus bersifat korosif. Proses pemurnian dilakukan dengan kapur tohor (CaO) untuk menangkap CO₂, pasir hijau mangan untuk mengikat H₂S, serta karbon aktif untuk menghilangkan bau.

0 Komentar