Ares mengatakan konsep tersebut pada dasarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Namun, kegiatan walking tour perlu terus dikembangkan agar semakin banyak masyarakat yang memiliki kesempatan untuk mengenal sejarah dan warisan budaya di Kota Cimahi.
Dalam pelaksanaannya, Disbudparpora juga membuka peluang kolaborasi dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Cimahi. Keterlibatan pemandu wisata dinilai penting agar informasi mengenai sejarah setiap objek yang dikunjungi dapat disampaikan kepada peserta secara lebih terarah.
“Kita juga harus memberikan apa, peluang ya kepada anak-anak atau adik-adik kita yang difabel ya untuk ikut serta dalam kegiatan walking tour ya. Saya kira Sakoci sih cocok ya, karena aman, karena duduknya juga nyaman ya kan,” tutur Ares.
Baca Juga:Perpustakaan Kota Cimahi Rencanakan Tur Heritage untuk Pengunjung, Termasuk untuk Penyandang DifabelBioskop Mini di Perpustakaan Cimahi, Cara Baru Dongkrak Minat Literasi Generasi Muda
Menurut dia, penggunaan Sakoci memungkinkan kegiatan tersebut dibuat lebih inklusif. Dengan demikian, anak-anak maupun masyarakat penyandang difabel tetap dapat mengikuti perjalanan untuk mengenal berbagai peninggalan sejarah di Kota Cimahi.
Ares menegaskan, akses terhadap kegiatan pengenalan sejarah semestinya tidak hanya diberikan kepada peserta didik yang tidak memiliki keterbatasan. Anak-anak penyandang difabel juga memiliki hak yang sama untuk mengetahui sejarah kota tempat mereka tinggal.
“Jadi tidak hanya anak-anak yang normal dalam hal ini anak-anak SD, SMP yang menikmati walking tour, ya teman-temannya juga yang memiliki keterbatasan harus dong, biar tahu mereka juga bahwa ini loh Cimahi punya sejarah. Masing-masing objek bangunan memiliki sejarah,” tukas Ares. (Mong)
