Menurut Assyifa, pilihan terhadap gabin juga sejalan dengan karakter Tapal Market yang ingin mengeksplorasi kembali makanan Indonesia melalui pendekatan yang lebih relevan dengan generasi saat ini.
“Kenapa gabin? Karena kami tidak ingin selalu mengambil makanan yang sedang populer atau yang sudah dianggap premium. Kami justru tertarik melihat makanan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, kemudian mencari kemungkinan baru di dalamnya.
Gabin punya karakter yang sederhana, familiar, tetapi sangat terbuka untuk dikembangkan,” ujarnya.Mengapa Gabin, Bukan Jajanan Lain?Di tengah berkembangnya tren pastry dan berbagai jajanan kekinian, Tapal Market memilih mengambil jalur yang berbeda. Alih-alih mengikuti tren dengan menghadirkan produk yang sedang populer, Tapal Market memilih mengangkat makanan yang sudah dikenal masyarakat dan memberikan perspektif baru terhadapnya.
Baca Juga:Memahami Posisi Bupati dalam Kasus PT Bandung Daya SentosaKomitmen Cegah Stunting Berlanjut, Alfamidi Salurkan 6.000 Telur Dukung Gizi Balita
Menurut Chef Nugraha, gabin memiliki karakter yang menarik dari sisi kuliner karena terdapat keseimbangan antara tekstur crackers dan isian yang dapat dikembangkan ke berbagai arah.“Secara produk, gabin punya sesuatu yang menarik.
Ada tekstur, ada ruang untuk bermain dengan filling, dan yang paling penting, orang sudah punya memori terhadap gabin. Tantangannya adalah bagaimana kami bisa mempertahankan rasa familiar itu, tetapi pada saat yang sama memberikan pengalaman yang baru,” jelas Chef Nugraha.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari filosofi Tapal Market dalam mengembangkan menu, yakni tidak sekadar menciptakan makanan baru, tetapi juga membaca kembali makanan yang sudah hidup di tengah masyarakat.
Bagi Tapal Market, inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu dari nol. Terkadang, inovasi justru dimulai dengan melihat kembali sesuatu yang sudah familiar/
Melanjutkan Cerita Makanan IndonesiaRETHINK GABIN menjadi bagian dari upaya Tapal Market untuk mengeksplorasi perspektif baru terhadap makanan Indonesia. Konsep tersebut berangkat dari keyakinan bahwa makanan tidak hanya berbicara mengenai rasa, tetapi juga tentang cerita, kebiasaan, memori, serta bagaimana sebuah makanan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Buat kami, makanan selalu punya cerita. Ketika kita mengambil gabin, kita sebenarnya tidak hanya mengambil sebuah produk, tetapi juga mengambil bagian dari memori banyak orang. Karena itu, kami ingin mengolahnya dengan rasa hormat terhadap apa yang sudah ada, tetapi tetap memberikan ruang untuk berkembang,” tutur Assyifa.
