Memproduksi Film Dokumenter Sejarah: Praktik Baik Pembelajaran Mendalam pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Memproduksi Film Dokumenter Sejarah: Praktik Baik Pembelajaran Mendalam pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Crew Film Sedang Mengecek Alat Rekam Mewawancarai Narasumber Sumber: Dokumentasi Kelompok 6 (Bumi Alit Kabuyutan)
0 Komentar

Pada tahap ketiga, murid mulai menentukan jadwal praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Setiap kelompok harus membuat lini masa (time line) sesuai dengan waktu yang diberikan. Proyek pembuatan film dokumenter ini dilakukan dalam rentang waktu 16 kali pertemuan (16 x 45 menit) atau satu bulan setengah. Mulai dari pemaparan materi, penyusunan rencana, pelaksanaan proyek, sampai pada presentasi karya.

Penyusunan jadwal ini difokuskan pada tahapan pembuatan film dokumenter, yakni tahap praproduksi, tahap produksi, dan tahap pascaproduksi. Tahapan tersebut sangat penting untuk direncanakan dengan baik agar waktu yang disediakan dapat dimanfaatkan secara efektif. Penjadwalan tersebut disesuaikan dengan kesiapan kelompok, kesiapan peralatan yang dibutuhkan, perizinan lokasi, dan penentuan waktu pelaksanaan shooting.

4. Tahap keempat, memonitor murid

Tahap keempat dari implementasi model Project Based Learning adalah memonitor pekerjaan murid. Hal-hal yang dimonitor terkait dengan proyek pembuatan film dokumenter adalah kemajuan perkembangan proyek, kemampuan mengatasi kendala, kerjasama kelompok, ketersediaan perangkat produksi film, dan kesesuaian proses produksi dengan jadwal yang telah ditetapkan.

Baca Juga:Lewat Berbagai Program Unggulan, KDS Buka Jalan bagi UMKM Kabupaten Bandung BerkembangSedimentasi Capai Jutaan Meter Kubik, KDS Dorong Revitalisasi Sungai Citarum

5. Tahap kelima, menguji hasil

Tahap berikutnya dalam implementasi model project based learning adalah menayangkan hasil produksi film, mempresentasikan hasil produksi film, dan menjawab pertanyaan terkait konsep dan proses. Setelah setiap kelompok mampu menyelesaikan proyek film dokumenter sesuai dengan tengat waktu yang ditentukan, murid diminta untuk menayangkan, mempresentasikan, dan membuka sesi tanya jawab dengan murid dari kelompok lain.

yang usianya sudah 90 tahun. Berdasarkan penjelasan dan ingatan yang masih tajam, Ma Yoyoh adalah salah seorang yang turut membantu mengevakuasi jenazah para pejuang yang gugur dalam pertempuran tersebut. Cerita sedih dan mengharukan ketika para pejuang itu gugur diberondong tembakan oleh Belanda memberikan pemahaman kepada para murid akan pentingnya cinta tanah air, berkorban untuk bangsa dan negara, serta melanjutkan perjuangan mereka di masa sekarang dan masa yang akan datang agar bangsa Indonesia benar-benar merdeka, terbebas dari segala bentuk penjajahan modern.

Berdasarkan pengalaman pembelajaran yang telah dilakukan penulis dapat disimpulkan bahwa penerapan model Project Based Learning dengan memproduksi film dokumenter sejarah berkorelasi dengan meningkatnya kemampuan literasi digital dan tumbuhnya karakter cinta tanah air. Murid mengakui bahwa selama ini kurang mengatahui latar belakang atau cerita sejarah yang ada di wilayahnya. Selama ini, murid hanya belajar sejarah di sekolah sesuai dengan materi dalam kurikulum mata pelajaran sejarah. Sedangkan, cerita sejarah yang sebenarnya sangat penting untuk diketahui, dipelajari, dan dimaknai sering diabaikan. Dengan memproduksi film dokumenter sejarah, murid merasa dibangkitkan kembali rasa nasionalismenya sehingga lebih menghargai jasa-jasa pahlawan yang patut diteladani.

0 Komentar