Murid bertanya jawab mengenai video yang ditayangkan. Kegiatan tersebut sebagai stimulus awal sebelum melaksanakan proyek memproduksi film dokumenter. Pertanyaan mendasar ini diperlukan untuk menstimulus murid untuk mengerahkan seluruh kemampuan berpikir dan wawasan yang selama ini diperoleh. Dengan pertanyaan, pikiran murid menjadi terbuka untuk menerima berbagai informasi. Bahkan murid dapat mengaitkan dengan mata pelajaran sejarah yang diperoleh (intertekstual).
Setelah menentukan topik, murid merumuskan judul yang sesuai serta merumuskan isi informasi yang akan disampaikan. Murid dapat membuat kerangka terlebih dahulu untuk memudahkan mencari referensi yang dibutuhkan. Murid diharuskan melengkapi isi informasi dalam film dokumenter tersebut dengan keterangan atau data yang lebih lengkap berdasarkan hasil wawancara narasumber sebagai sumber primer. Oleh karena itu, murid harus mampu untuk merencanakan proyek pembuatan film dokumenter ini dengan matang.
2. Tahap kedua, menyusun rencana proyek
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dan murid. Dengan demikian, murid diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
Baca Juga:Lewat Berbagai Program Unggulan, KDS Buka Jalan bagi UMKM Kabupaten Bandung BerkembangSedimentasi Capai Jutaan Meter Kubik, KDS Dorong Revitalisasi Sungai Citarum
Rencana proyek ini dilakukan setelah murid dibagi ke dalam kelompok. Secara berkelompok, murid diminta untuk menyusunan rancangan proyek, penyusunan skrip film dokumenter berdasarkan topik atau objek film yang dipilih, dan menyiapkan alat dan bahan untuk keperluan shooting atau pengambilan rekaman video.
Dalam menyusun rancangan proyek, murid merancang lini masa (timeline) tahapan produksi film dokumenter agar proyek dapat dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditentukan. Selain itu, murid merancang gambaran film yang akan diproduksi dengan membuat outline.
Murid yang tergabung dalam kelompok akan berbagi tugas, yakni ada yang bertugas sebagai sutradara, penulis skrip film, kamerawan, editor film, pembawa acara, dan peran pendukung lainnya. Kegiatan pada tahap kedua ini difokuskan pada penyusunan skrip film dan menginventarisasi kebutuhan alat dan bahan.
