Memproduksi Film Dokumenter Sejarah: Praktik Baik Pembelajaran Mendalam pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Memproduksi Film Dokumenter Sejarah: Praktik Baik Pembelajaran Mendalam pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Crew Film Sedang Mengecek Alat Rekam Mewawancarai Narasumber Sumber: Dokumentasi Kelompok 6 (Bumi Alit Kabuyutan)
0 Komentar

Indikasi bahwa kita sudah masuk ‘zona mabuk teknologi’ berdasarkan tanda-tanda yang dikemukakan John Naisbitt tersebut sudah sangat dirasakan di lingkungan pendidikan. Merujuk pada hasil survei Kominfo tahun 2020, diketahui bahwa responden dengan jenjang pendidikan SMA/sederajat menduduki peringkat paling banyak, yakni 56,9%, dalam penggunaan gawai dan akses internet. Sementara itu, aktivitas yang paling sering dilakukan saat berinternet meliputi berkomunikasi lewat pesan singkat (whatsapp, line, telegram, dll.), mencari informasi atau browsing diinternet, dan menggunakan media sosial (Facebook, Instagram, Twitter, dll.). Berdasarkan hasil survei tersebut, pendidik dan murid di sekolah menghadapi tantangan yang dilematis. Namun disaat yang bersamaan, internet juga menjadi peluang bagi pendidik dan murid untuk berlomba mengisi konten positif yang mengandung pendidikan dan wawasan. Oleh karena itu, proses pembelajaran harus diarahkan pada integrasi antara teknologi dan pedagogik (Technological Pedagogical Content Knowladge/TPACK) dalam pengembangan konten pembelajaran. Sebab, kita tidak bisa mencegah dan mengontrol masuknya konten negatif, tetapi upaya yang dapat dilakukan adalah melatih para murid untuk mampu sebanyak mungkin menghasilkan konten positif.

Salah satu materi pelajaran bahasa Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk membuat proyek konten digital adalah teks eksplanasi dan teks prosedur. Hal ini lebih menarik jika dikaitkan dengan konteks sejarah lokal, yakni tempat atau peristiwa bersejarah yang ada di wilayah tempat tinggal para murid. Selain meningkatkan kemampuan literasi digtal dan keterampilan memanfaatkan gawai, murid juga dapat menumbuhkan cinta tanah air dengan memahami sejarah lokal secara kontekstual.

Penulis pernah melakukan survei sederhana terhadap 200 murid kelas XII terkait pengetahuan murid tentang tempat bersejarah di wilayah Bandung Selatan, tempat mereka tinggal. Berdasarkan hasil angket tersebut diketahui bahwa sebanyak 51,8% murid tahu peristiwa/tempat bersejarah di Kab. Bandung dan sekitarnya, 24,6% menjawab tidak tahu, dan sebanyak 23,6% menjawab tahu, tetapi tidak yakin. Meskipun lebih dari 50% murid tahu peristiwa/tempat bersejarah, namun ketika diminta untuk menyebutkan tempat bersejarah tersebut, hanya tempat yang memang sudah populer yang disampaikan, yakni Bumi Alit Kabuyutan, Radio Malabar di Gunung Puntang, dan Monumen Moh. Toha di Dayeuh Kolot. Padahal, berdasarkan data statistik Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung tahun 2019 terdapat 119 situs sejarah dan budaya yang ada di wilayah Kabupaten Bandung.

0 Komentar