Hingga kini, warga mengaku belum pernah menerima kompensasi maupun penyelesaian yang dianggap memadai dari pihak perusahaan. Upaya penyiraman yang sempat dilakukan perusahaan juga dinilai belum mampu mengatasi persoalan karena debu tetap beterbangan hingga masuk ke kawasan permukiman.
“Kami sudah beberapa kali menyampaikan aspirasi, tetapi belum ada solusi yang benar-benar menyelesaikan persoalan. Debunya tetap masuk ke rumah-rumah warga,” ujar Lintang.
Sementara itu, Nengsi (58), warga Kampung Pojok Angkasa RW 11 Desa Ciburuy, mengaku baru mengetahui adanya rencana pembangunan benteng di belakang rumahnya tanpa pernah diajak berdiskusi terlebih dahulu.
Baca Juga:Opak Tasikmalaya Pecahkan Rekor Dunia, 3.123 Sajian Antar Kuliner Tradisional ke Panggung InternasionalHari Jadi ke-394 Kabupaten Tasikmalaya Hadir dengan Konsep Baru, UMKM Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah
“Katanya mau dibangun benteng di belakang rumah, tetapi tidak ada pemberitahuan atau perundingan terlebih dahulu dengan warga. Saya juga tidak tahu kelanjutannya seperti apa,” ucapnya.
Menurut Nengsi, dampak yang paling dirasakan warga adalah polusi debu yang diduga memicu gangguan pernapasan. Ia juga menyebut banyak anak di lingkungan tempat tinggalnya mengalami batuk dan flu, sementara sebagian warga mengeluhkan gatal-gatal.
“Yang paling terasa itu debu. Kami sering sesak napas. Anak-anak juga banyak yang batuk dan flu,” katanya. (Wit)
