Keluhkan Polusi Debu hingga Sesak Napas, PT Kurnia Marmer Digeruduk Emak-emak

Keluhkan Polusi Debu hingga Sesak Napas, PT Kurnia Marmer Digeruduk Emak-emak
Spanduk berisi kritikan dibawa emak-emak dalam aksi demo di PT Kurnia Marmer, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Bandung Barat. Sabtu (25/7). Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Puluhan emak-emak menggeruduk PT Kurnia Marmer di Kampung Pamuncatan, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (25/7/2026).

Mereka menuntut perusahaan menghentikan aktivitas yang diduga menjadi penyebab polusi debu dan getaran mesin yang selama bertahun-tahun mengganggu kesehatan serta kenyamanan warga di sekitar pabrik.

Warga yang mengikuti aksi berasal dari RW 10, RW 11, dan RW 12 Desa Ciburuy. Mereka mengaku telah berulang kali menyampaikan aspirasi kepada pihak perusahaan, namun berbagai keluhan tersebut dinilai tidak pernah ditindaklanjuti dengan solusi yang nyata.

Baca Juga:Opak Tasikmalaya Pecahkan Rekor Dunia, 3.123 Sajian Antar Kuliner Tradisional ke Panggung InternasionalHari Jadi ke-394 Kabupaten Tasikmalaya Hadir dengan Konsep Baru, UMKM Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah

Salah seorang warga, Lintang (27), mengatakan aksi tersebut juga dipicu rencana pembangunan benteng di kawasan Kampung Pojok Angkasa yang disebut dilakukan tanpa adanya musyawarah dengan masyarakat.

“Selain mempersoalkan polusi debu dan getaran mesin akibat operasional pabrik selama 24 jam, kami juga memprotes rencana pembangunan benteng di Kampung Pojok Angkasa karena dilakukan tanpa musyawarah dengan warga,” ujarnya kepada wartawan.

Menurut Lintang, dugaan polusi dari aktivitas pabrik sudah lama menjadi keluhan masyarakat. Debu hitam yang diduga berasal dari proses pembakaran disebut menyebar hingga ke permukiman warga.

“Debunya terlihat jelas. Setiap pagi setelah menyapu rumah, lantai dipenuhi debu hitam seperti abu arang. Pakaian yang dijemur di luar juga terkena debu. Banyak warga mengalami gatal-gatal dan sesak napas,” katanya.

Ia menduga perusahaan menggunakan bahan bakar petcoke sebagai pengganti batu bara. Menurutnya, bahan bakar tersebut memiliki nilai kalor lebih tinggi, tetapi menghasilkan polusi yang lebih besar.

“Petcoke itu mengandung sulfur. Nilai kalorinya memang lebih tinggi daripada batu bara, tetapi efek polusinya juga lebih besar. Debu hasil pembakarannya beterbangan ke mana-mana dan diduga menjadi penyebab warga mengalami gangguan kesehatan,” tuturnya.

Selain polusi udara, warga juga mengeluhkan getaran mesin yang dirasakan hampir sepanjang hari akibat operasional pabrik selama 24 jam. Kondisi itu dinilai mengganggu kenyamanan warga yang tinggal di sekitar kawasan industri.

Baca Juga:Satlantas Polres Tasikmalaya Dorong Kemandirian Panti Asuhan Lewat Bantuan Ternak dan PerikananSambut Milangkala ke-394, Lorong Merah Putih Cibahong Kembali Eksis Jadi Magnet Wisata dan UMKM

Warga juga mempersoalkan rencana pembangunan benteng di belakang permukiman Kampung Pojok Angkasa. Menurut mereka, rencana tersebut dilakukan tanpa adanya pemberitahuan maupun musyawarah dengan warga yang terdampak.

0 Komentar