Persoalan Ekonomi dan Sulitnya Lapangan Kerja Picu Maraknya Aksi Begal di Bandung

Pengendara sepeda motor melintas di samping spanduk peringatan aksi kriminalitas yang terpasang di Jalan Pasir
Pengendara sepeda motor melintas di samping spanduk peringatan aksi kriminalitas yang terpasang di Jalan Pasirluyu Selatan, Kota Bandung, Jumat (24/7/2026). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Maraknya aksi kejahatan jalanan, khususnya begal, di wilayah Bandung mendapat sorotan dari pakar ekonomi Universitas Pasundan (Unpas), Acuviarta Kertabi. Menurutnya, persoalan ekonomi menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya tindak kriminal tersebut.

Acu, sapaan akrab Acuviarta Kertabi, mengatakan bahwa maraknya aksi begal yang belakangan terjadi di Bandung tidak terlepas dari kondisi ekonomi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai tekanan.

“Tentu ada dampaknya dari sisi ekonomi. Kita harus memahami bahwa maraknya aksi begal merupakan salah satu dampak dari persoalan ekonomi yang terjadi di masyarakat,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (24/7).

Baca Juga:SPP Sekolah Negeri Hanya Fatamorgana, Jabar Mampu Gratiskan Hingga Swasta!Kekeringan Kian Meluas, Dari Perkampungan hingga Kawasan Perkotaan Tasikmalaya Mulai Krisis Air Bersih

Selain tekanan ekonomi, Acu menilai sulitnya memperoleh pekerjaan juga menjadi faktor yang mendorong meningkatnya aksi kejahatan jalanan di Kota Bandung.

“Selain persoalan ekonomi, saya melihat substansi utamanya adalah sulitnya mencari lapangan pekerjaan akibat PHK, tingginya angka pengangguran, dan kemiskinan. Faktor-faktor inilah yang menjadi salah satu penyebab munculnya aksi begal,” katanya.

Karena itu, Acu meminta para pemangku kebijakan, khususnya pemerintah, segera melakukan evaluasi dan mengambil langkah konkret agar kondisi tersebut tidak semakin memburuk.

Menurutnya, apabila aksi kejahatan jalanan terus meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan dari sisi keamanan, tetapi juga terhadap aktivitas dan pendapatan ekonomi masyarakat.

“Hal ini tentu akan menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama saat beraktivitas pada malam hari. Padahal, Kota Bandung merupakan salah satu destinasi yang banyak dikunjungi wisatawan dari luar daerah, selain menjadi pusat aktivitas warganya sendiri. Jika kondisi ini terus terjadi, tentu akan berdampak terhadap perekonomian,” ujarnya.

Acu menambahkan, penanganan aksi begal tidak cukup hanya melalui pendekatan penegakan hukum. Pemerintah juga perlu menyentuh akar persoalan yang melatarbelakanginya, yakni aspek sosial dan ekonomi.

“Kita harus mampu menganalisis akar permasalahan dari pelaku begal. Pada dasarnya, persoalan ini berkaitan dengan kondisi sosial dan ekonomi. Karena itu, penyediaan lapangan pekerjaan harus menjadi perhatian. Selain itu, penyaluran potensi para pemuda juga penting. Saat ini, penyerapan tenaga kerja di Kota Bandung masih didominasi lulusan SMK dan perguruan tinggi,” pungkasnya.

0 Komentar