Dugaan Penculikan Meila ke Sumsel Masih Diusut, Polisi Pastikan Penyidikan Terus Berjalan

Ilustrasi penculikan
Ilustrasi penculikan
0 Komentar

“Nah katanya dia mau ngasih saya surprise untuk terakhir kalinya, katanya mau ngasi hape ternyata tidak. Saya sama adik dibawa pake motor, tangan saya dipegangi, terus bilang kalau kamu berisik mau aku bunuh, awalnya saya tidak teriak karena takut viral, tapi pas di motor saya teriak di jalan tapi tidak ada respon orang-orang, pada ngeliat aja,” jelasnya.

Setelah itu, Meila dibawa menuju Stasiun Bandung. Dari sana, perjalanan berlanjut ke Karawang, kemudian menuju Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan.

“Di stasiun (Kota Bandung) adik dipesenin ojek, pulang. Seinget saya ke Karawang, terus Bekasi, terus nyebarang ke Baturaja. Ke rumahnya,” jelas Meila.

Baca Juga:Pemkab Tasikmalaya Ajak Semua Elemen Wujudkan Zero Stunting, Tekankan Pencegahan Agar Tak Ada Kasus BaruSPP Sekolah Negeri Hanya Fatamorgana, Jabar Mampu Gratiskan Hingga Swasta!

Selama berada di Baturaja, Meila mengaku tidak mengalami kekerasan fisik. Ia mengatakan keluarga MRSA memperlakukannya dengan baik. Namun, menurutnya, ibu dari MRSA justru mempertanyakan tindakan anaknya dan meminta agar Meila segera dipulangkan.

“Bundanya itu kan marah sama Reza (terduga pelaku), ngapain katanya. Diminta untuk mulangin, tapi waktu itu tidak langsung dipulangin, terus dapat kabar ada polisi nyari,” katanya.

Meila akhirnya dipulangkan ke Jawa Barat pada Senin (20/7/2026). Ia diantar oleh MRSA bersama ibunya hingga perjalanan menuju Bandung.

Keesokan harinya, Meila tiba di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung. Setelah diberi telepon genggam untuk menghubungi keluarganya, korban dijemput oleh pamannya. Sementara itu, MRSA bersama ibunya disebut telah turun lebih dahulu sebelum tiba di terminal.

“Dikasi hape kan, ngehubungi ke sini (keluarga) dijemputlah sama Paman, sampai terminal itu jam 2 (siang), tapi sendiri. Ibu sama Reza itu turun duluan sebelum terminal (Leuwipanjang),” tandasnya.

Di sisi lain, keluarga korban mendesak kepolisian segera menangkap MRSA agar proses hukum dapat berjalan dan peristiwa serupa tidak kembali terjadi.

Adik korban, Silma Azizah (19), mengatakan keluarga berharap aparat penegak hukum segera mengambil langkah tegas terhadap terduga pelaku.

Baca Juga:Kekeringan Kian Meluas, Dari Perkampungan hingga Kawasan Perkotaan Tasikmalaya Mulai Krisis Air BersihGolkar Cianjur Tegaskan Komitmen Kawal Pemerintahan Wahyu-Ramzi

“Harapan keluarga kami, kalau pelaku bisa ditangkap mohon ditangkap,” kata Silma Azizah, Kamis (23/7/2026).

Silma menilai langkah tersebut penting untuk mencegah munculnya korban lain. Ia juga menyebut peristiwa yang dialami kakaknya telah meninggalkan trauma mendalam.

0 Komentar