“Bagi siswa Sekolah Rakyat yang memiliki minat dan bakat di bidang pariwisata, tentu akan kita arahkan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi yang dimiliki Kementerian Pariwisata. Jadi disesuaikan dengan minat masing-masing, tidak semuanya,” ucapnya.
Sementara itu, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan kolaborasi tersebut tidak hanya sebatas penyediaan lahan, tetapi juga membuka peluang pembinaan keterampilan bagi siswa Sekolah Rakyat agar siap memasuki dunia kerja, termasuk sektor pariwisata.
“Kami ingin memberikan manfaat lebih agar program-program kami dapat menghasilkan lulusan yang juga bisa bekerja di luar negeri karena standar pendidikan di Indonesia dan konten wisata yang berkualitas,” kata Widiyanti.
Baca Juga:Golkar Cianjur Komitmen Kawal Pelaksanaan Tatib dan Tata Beracara Baru DPRDKasus Kekerasan Anak di Tasikmalaya Masih Tinggi, Mayoritas Pelaku Orang Terdekat Korban
Ia memastikan keberadaan Sekolah Rakyat di kawasan Poltekpar NHI Bandung tidak akan mengganggu aktivitas perkuliahan. Sebaliknya, mahasiswa akan dilibatkan sebagai pendamping atau kakak asuh bagi para siswa.
“Mahasiswa Politeknik Pariwisata bisa menjadi kakak asuh, mendidik, membantu mereka beradaptasi, sekaligus mengenalkan industri pariwisata. Mungkin ada yang ingin menjadi entrepreneur, bekerja di restoran, kafe, atau travel agent. Ini menjadi kesempatan memberikan inspirasi kepada anak-anak Sekolah Rakyat bahwa ada peluang besar di industri pariwisata,” ujarnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan pendidikan, Kementerian Pariwisata juga menyiapkan jalur khusus bagi lulusan Sekolah Rakyat untuk melanjutkan studi di Politeknik Pariwisata.
“Lulusan Sekolah Rakyat juga kami berikan alokasi sebesar 20 persen untuk dapat masuk ke Politeknik Pariwisata dengan beasiswa,” ungkap Widiyanti.
