Ancaman Kekeringan Bandung Barat Diprediksi Pangkas Produksi Padi 15 Persen

Ilustrasi: Petani di wilayah Kecamatan Ngamprah, Bandung Barat saat memanen padi. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
Ilustrasi: Petani di wilayah Kecamatan Ngamprah, Bandung Barat saat memanen padi. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Ancaman kekeringan pada musim tanam kedua (MT II) 2026 diperkirakan akan memangkas produksi padi di Kabupaten Bandung Barat (KBB) hingga 15 persen.

Pemerintah daerah pun mempercepat berbagai langkah mitigasi untuk mencegah meluasnya dampak kekeringan terhadap sektor pertanian.

Sejumlah upaya dilakukan, mulai dari penyaluran pompa air, penggunaan varietas padi tahan kekeringan, hingga pendampingan kepada petani di wilayah yang mulai mengalami keterbatasan pasokan air.

Baca Juga:Wabup Tasikmalaya: Pemeriksaan BPK Jangan Dipandang untuk Cari-cari KesalahanPGN Area Karawang Edukasi Masyarakat dan Dukung UMKM lewat Pemanfaatan Gas Bumi di Harkopnas

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bandung Barat, Lukmanul Hakim, mengatakan potensi penurunan produksi tersebut dapat terjadi apabila kekeringan tidak segera ditangani melalui berbagai intervensi di lapangan.

“Produksi gabah pada musim tanam kedua diperkirakan dapat turun sekitar 10 hingga 15 persen apabila kondisi kekeringan tidak tertangani dengan baik. Karena itu, kami mempercepat berbagai langkah mitigasi agar dampaknya bisa ditekan,” kata Lukmanul, Selasa (21/7/2026).

Menurut dia, hingga saat ini belum ada wilayah di Bandung Barat yang mengalami kekeringan secara menyeluruh. Namun, hasil pendataan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT) menunjukkan sedikitnya 433 hektare lahan pertanian telah masuk kategori terancam terdampak kekeringan.

“Kami terus memantau perkembangan di lapangan. Lahan yang mulai mengalami kekurangan air langsung menjadi prioritas penanganan agar tidak berkembang menjadi gagal panen,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah mendistribusikan 157 unit pompa air berukuran tiga inci yang bersumber dari APBN 2026 ke 13 kecamatan. Bantuan tersebut diperkirakan mampu mengairi lahan seluas 785 hingga 1.500 hektare, bergantung pada kondisi sumber air dan karakteristik lahan.

Selain penyediaan pompa air, petani juga didorong menggunakan varietas padi yang lebih tahan terhadap kekeringan, seperti Inpari 42 dan Inpari 48.

Pemerintah turut mengimbau penerapan teknik budidaya hemat air, penyesuaian waktu tanam, serta diversifikasi komoditas sebagai upaya mengurangi risiko kerugian.

Baca Juga:Kebakaran Berulang di Tasikmalaya, FK Tagana Imbau Waspada Selama Musim KemarauRumah Milik Lansia di Cibalanarik Ludes Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik

Data DKPP mencatat produksi padi Bandung Barat pada semester pertama 2026 mencapai 144.977 ton Gabah Kering Panen (GKP) atau setara 81.514 ton beras. Jumlah tersebut turun 11,59 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 163.974 ton GKP atau setara 92.194 ton beras.

Meski demikian, Pemkab Bandung Barat masih menargetkan produksi padi sepanjang 2026 sebesar 265.368,2 ton GKP. Target tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi produksi tahun 2025 yang mencapai 302.518,3 ton GKP.

0 Komentar