Platform Digital Terintegrasi Dinilai Jadi Kunci Jaga Daya Saing Ekspor Sawit Indonesia

Platform Digital Terintegrasi Dinilai Jadi Kunci Jaga Daya Saing Ekspor Sawit Indonesia
Ilustrasi buah kelapa sawit. (Foto: ANTARA)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Transformasi digital dinilai menjadi langkah strategis untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan daya saing ekspor minyak sawit Indonesia di tengah semakin ketatnya tuntutan pasar global terhadap aspek keberlanjutan dan ketertelusuran produk.

Pengamat pertanian dari Center of Reform on Economics (CORE), Eliza Mardian, mendorong pemerintah membangun platform digital terintegrasi yang menghubungkan petani, kebun, pabrik pengolahan hingga eksportir dalam satu ekosistem.

Menurutnya, sistem tersebut akan mempermudah pelacakan rantai pasok sekaligus membantu pelaku usaha memenuhi berbagai standar internasional.

Baca Juga:Tasik Hejo Gandeng Sekolah Alam Hayati, Pemkab Siapkan Gerakan Penghijauan Berbasis DesaTingkatkan Mutu Layanan, RSUD KHZ Musthafa Perkuat Kompetensi SDM Jelang Akreditasi

“Integrasikan dengan ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil), serta sediakan onboarding gratis atau bersubsidi bagi smallholder. Ini adalah game changer untuk memenuhi EUDR (aturan anti deforestasi Uni Eropa) dan standar pembeli lain sekaligus membuka peluang memperoleh premium price,” kata Eliza dikutip dari ANTARA, Selasa (14/7).

Ia menilai investasi awal yang dibutuhkan memang tidak kecil. Namun, manfaat jangka panjangnya diyakini mampu meningkatkan daya saing produk sawit Indonesia, membuka akses ke pasar yang lebih luas, hingga memberikan peluang memperoleh harga jual yang lebih tinggi karena memenuhi standar keberlanjutan.

Selain digitalisasi, Eliza menekankan pentingnya percepatan program peningkatan produktivitas perkebunan sawit melalui peremajaan tanaman menggunakan bibit unggul.

Upaya tersebut perlu didukung dengan penyediaan sarana produksi, pelatihan bagi petani, akses pembiayaan berbunga rendah, serta percepatan sertifikasi lahan.

Menurutnya, kombinasi berbagai program tersebut berpotensi meningkatkan produktivitas kebun sawit sebesar 20 hingga 40 persen dalam kurun lima sampai tujuh tahun. Dengan produktivitas yang lebih tinggi, Indonesia dapat meningkatkan volume ekspor tanpa harus melakukan pembukaan lahan baru.

Di sisi lain, Eliza juga mengusulkan pengembangan skema asuransi pertanian berbasis indeks cuaca sebagai langkah mitigasi terhadap risiko gagal panen akibat perubahan iklim. Ia turut mendorong perluasan edukasi mengenai penerapan sistem intercropping dan agroforestry agar petani memiliki sumber pendapatan tambahan sekaligus meningkatkan ketahanan usaha di tengah fluktuasi pasar global.

Sementara itu, kinerja ekspor minyak sawit Indonesia masih menunjukkan tren positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor crude palm oil (CPO) beserta produk turunannya mencapai 9,59 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga Mei 2026, meningkat 7,71 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

0 Komentar