Penolakan BRT Bandung Diklaim Mereda, Pengamat: Keberhasilan Ditentukan Integrasi dan Perubahan Perilaku Warga

Penolakan BRT Bandung Diklaim Mereda, Pengamat: Keberhasilan Ditentukan Integrasi dan Perubahan Perilaku Warga
Warga berjalan di samping proyek halte Bus Rapid Transit (BRT) di Jalan Otto Iskandar Dinata, Kota Bandung, Senin (13/7/2026). Pembangunan infrastruktur tersebut merupakan bagian dari pengembangan sistem BRT Bandung Raya yang ditujukan untuk meningkatkan layanan transportasi publik melalui penyediaan koridor terintegrasi, halte representatif, serta konektivitas antarmoda di kawasan metropolitan Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengklaim penolakan terhadap pembangunan infrastruktur Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya mulai mereda. Menurutnya, proses sosialisasi yang dilakukan pemerintah bersama berbagai pihak berhasil meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap proyek transportasi massal tersebut.

“Saya senang sekali melihat progres sosialisasi yang dilakukan oleh semua pihak, untuk memastikan agar BRT ini sudah mulai bisa diterima oleh masyarakat. Memang ada beberapa resistensi, tapi bisa ditangani dengan sangat baik,” kata Farhan.

Farhan juga menilai pembangunan halte BRT di sejumlah titik Kota Bandung berlangsung sesuai rencana. Ia menyebut pelaksanaan proyek memperhatikan aspek keselamatan sehingga tidak mengganggu aktivitas masyarakat secara signifikan.

Baca Juga:Cicadas Mulai Ditata, Satpol PP Bandung Bersihkan Lapak Tak Terpakai di Jalur Rencana BRTPKL Cicadas Dukung BRT, Asal Penataan Pedagang Dituntaskan Lebih Dulu

Menurutnya, pembangunan depo BRT di Cicaheum dan Leuwipanjang juga terus menunjukkan perkembangan positif. Bahkan, Pemerintah Kota Bandung masih mengkaji kemungkinan menjadikan kawasan Stasiun Hall sebagai depo tambahan untuk mendukung operasional BRT di masa mendatang.

“Depo Cicaheum sudah siap, dan Leuwipanjang sudah siap. Kita lagi menunggu kemungkinan untuk menjadikan Stasiun Hall juga sebagai depo. Kalau itu jadi, keren sih,” ujarnya.

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur BRT masih memunculkan pertanyaan mengenai efektivitasnya dalam mengurangi kemacetan di Kota Bandung. Sejumlah kalangan mempertanyakan apakah kehadiran BRT benar-benar mampu mengubah kebiasaan masyarakat yang selama ini bergantung pada kendaraan pribadi, atau justru mengurangi kapasitas jalan sehingga berpotensi memperparah kepadatan lalu lintas.

Pengamat transportasi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Wiku Tama, menilai keberhasilan BRT tidak dapat diukur hanya dari tersedianya halte maupun depo. Menurutnya, tujuan utama sistem BRT adalah mendorong perpindahan pengguna kendaraan pribadi ke angkutan umum.

Secara umum, Wiku menjelaskan bahwa BRT akan efektif apabila menawarkan layanan yang lebih cepat, nyaman, tepat waktu, aman, serta terintegrasi dengan moda transportasi lain. Selain itu, kemudahan akses menuju halte, sistem pembayaran yang praktis, serta frekuensi perjalanan yang tinggi menjadi faktor penting agar masyarakat bersedia meninggalkan kendaraan pribadinya.

Ia menilai, apabila layanan BRT mampu memberikan waktu tempuh yang kompetitif dibandingkan menggunakan sepeda motor atau mobil, maka peluang terjadinya peralihan moda transportasi akan semakin besar.

0 Komentar