JABAR EKSPRES – Puluhan warga Perumahan Citra Padalarang Indah, Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menutup akses menuju lokasi proyek galian G-Land.
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk penolakan terhadap aktivitas pengerukan tanah yang dinilai mengancam keselamatan permukiman warga.
Salah seorang warga, Novan (30), membenarkan aksi itu dilakukan pada Minggu (12/7/2026). Menurutnya, warga khawatir tebing hasil galian yang berada sangat dekat dengan rumah-rumah penduduk berpotensi memicu longsor, terutama saat hujan deras.
Baca Juga:Indonesia Bidik Peluang Bisnis Penerbangan ASEAN-China Lewat Penguatan Konektivitas UdaraKecelakaan Beruntun Terjadi di Kawalu, Pengemudi Fortuner Diduga Masih Remaja Bawah Umur
“Betul, kemarin kami menutup akses menuju lokasi aktivitas penggalian tanah proyek G-Land. Warga RW 20 khawatir proyek itu memicu longsor karena lokasinya sangat dekat dengan permukiman,” ujar Novan, Senin (13/7/2026).
Ia mengatakan, aksi tersebut merupakan puncak kekecewaan warga lantaran sejak aktivitas penggalian dimulai tidak pernah ada sosialisasi maupun penjelasan dari pihak pengembang.
“Sejak awal tidak pernah ada informasi yang disampaikan kepada warga. Kami sudah beberapa kali mencoba mengingatkan dan menemui pihak proyek, tetapi tidak pernah ada respons yang jelas. Karena itu warga akhirnya sepakat melakukan aksi penolakan,” katanya.
Menurut Novan, tebing hasil pengerukan kini diperkirakan mencapai sekitar 30 meter dengan jarak hanya sekitar lima meter dari permukiman. Kondisi itu dinilai sangat berbahaya apabila terjadi pergerakan tanah.
“Yang kami khawatirkan bukan hanya aktivitas galiannya, tetapi dampaknya terhadap rumah-rumah warga. Kalau sampai terjadi longsor, tentu masyarakat yang akan menerima risikonya,” ucapnya.
Novan mengungkapkan, warga sempat memperoleh informasi bahwa lahan tersebut akan dikembangkan menjadi kawasan perumahan. Namun hingga kini, yang terlihat hanya aktivitas pengerukan tanah tanpa adanya proses pembangunan.
“Informasinya untuk pembangunan perumahan dengan metode cut and fill. Tetapi yang kami lihat hanya tanah terus dikeruk, sementara proses pengurukan atau pembangunan tidak terlihat. Itu yang membuat warga mempertanyakan tujuan kegiatan ini,” tuturnya.
Baca Juga:Febrie Adriansyah Mundur dari Jabatan Jampidsus, Sebut Demi Menjaga Integritas InstitusiWali Kota Bandung Muhammad Farhan Dilarikan ke Rumah Sakit, Kondisi Masih Dipantau Tim Medis
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, khususnya instansi terkait, segera memeriksa legalitas proyek sekaligus menghentikan aktivitas penggalian apabila ditemukan pelanggaran.
“Kami meminta pemerintah segera bertindak. Jangan menunggu sampai terjadi bencana baru dilakukan penanganan. Keselamatan warga harus menjadi prioritas,” tegasnya.
