Ono menegaskan seluruh rangkaian kegiatan tersebut bertujuan memperkuat persatuan, menumbuhkan semangat gotong royong, sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan yang diwariskan Fatmawati Soekarno. “Kami ingin sejarah tidak dilupakan. Sosok Ibu Fatmawati sebagai perempuan, istri, ibu, sekaligus pejuang harus menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan di Jawa Barat. Semangat gotong royong juga harus terus digelorakan untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan rakyat,” tegasnya.
Sementara itu, Bintang Puspayoga mengatakan puncak peringatan Hari Nasional Fatmawati Trofi akan digelar pada Oktober 2026. Menurutnya, Bandung dipilih sebagai lokasi regional Jawa Barat karena memiliki jejak sejarah yang kuat dalam perjalanan bangsa, mulai dari lahirnya Marhaenisme, berdirinya PNI, Kongres Perempuan 1938, hingga Konferensi Asia Afrika 1955.
“Fatmawati Trofi bukan sekadar kompetisi, tetapi simbol kepeloporan, keberanian, dan kepemimpinan perempuan Indonesia. Perempuan bukan pelengkap sejarah, melainkan arsitek peradaban yang harus menjadi subjek pembangunan bangsa,” ujar Bintang.
Baca Juga:Desak Pelaku Utama Segera Ditangkap, Keluarga Korban Pembunuhan Ujungberung Tuntut KeadilanSITH ITB Dorong Pemanfaatan Bambu Jadi Bioenergi dan Bioinsektisida di Cibugel
Ketua Wanoja Perjuangan Jawa Barat, Setyowati Anggraini Saputro, menambahkan kompetisi desain kebaya dan kerudung bukan sekadar ajang fesyen, melainkan upaya menerjemahkan semangat perjuangan Fatmawati ke dalam karya kreatif. “Yang dinilai bukan hanya desain pakaiannya, tetapi bagaimana peserta mampu menghadirkan spirit perjuangan, kesabaran, dan keteladanan Ibu Fatmawati selama mendampingi Bung Karno,” katanya.
Ia juga menegaskan pelantikan Wanoja Perjuangan menjadi momentum memperkuat peran perempuan kader PDI Perjuangan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. “Perempuan tidak hanya berperan di dalam rumah, tetapi juga harus hadir di tengah masyarakat, bergotong royong, dan membantu menyelesaikan persoalan-persoalan sosial,” pungkasnya. (bbs)
