JABAR EKSPRES – Pemerintah terus mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk meningkatkan daya saing agar mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri besar. Namun, sebelum memperoleh peluang kemitraan, UMKM dinilai harus terlebih dahulu memenuhi berbagai standar yang dibutuhkan dunia usaha.
Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menegaskan bahwa peningkatan kapasitas menjadi fondasi utama bagi pelaku usaha agar mampu menjalin kerja sama yang berkelanjutan dengan perusahaan besar.
Asisten Deputi Kemitraan dan Rantai Pasok Usaha Mikro Kementerian UMKM, Pristiyanto, menjelaskan bahwa pembinaan difokuskan pada peningkatan kualitas produk melalui pelatihan, pendampingan, hingga pemenuhan berbagai aspek legalitas dan sertifikasi yang menjadi persyaratan memasuki rantai pasok industri.
Baca Juga:2.616 Desa Masuk Identifikasi Ekspor, Kemendag Buka Jalan Produk Lokal Tembus Pasar GlobalBPBD Tetapkan Siaga Darurat Kekeringan di Tasikmalaya, Seluruh Kecamatan Kini Dipantau
“Pertama adalah peningkatan kapasitasnya dulu. UMKM saat melakukan bermitra tadi seringkali bermasalah. Masalahnya apa? Kualitas, kuantitas, dan kontinuitas,” kata Pristiyanto dikutip dari ANTARA, Senin (6/7/2026).
Selain meningkatkan kualitas, pemerintah juga berupaya memperkuat kapasitas produksi UMKM melalui penyediaan rumah produksi bersama (factory sharing).
Fasilitas ini diharapkan mampu membantu pelaku usaha menghasilkan produk dengan standar yang lebih seragam sekaligus meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi.
“Di kualitas, kita akan mengadakan pelatihan-pelatihan bagaimana UMKM itu meningkatkan kualitasnya, standarnya. Pemenuhan perizinan dan standar untuk dia masuk ke pasar,” ujarnya.
Pelaku UMKM juga didorong untuk melengkapi berbagai sertifikasi sesuai bidang usahanya agar produk yang dihasilkan memiliki daya saing dan dapat memenuhi kebutuhan perusahaan mitra.
Setelah melalui proses pembinaan, Kementerian UMKM melakukan kurasi terhadap pelaku usaha yang telah memenuhi kriteria. UMKM yang lolos kemudian mendapatkan pendampingan lanjutan, mulai dari penyusunan proposal bisnis, strategi negosiasi, teknik presentasi (pitching), hingga mengikuti business matching dengan perusahaan besar.
“Kita biasanya mengajarkan bagaimana negosiasi, kemudian bagaimana pembuatan proposal yang sesuai dengan permintaan pasar, kemudian mengadakan pitching, dan juga akhirnya masuk ke business matching,” katanya.
Baca Juga:KMRT Tuding Pemkab Tasikmalaya Abaikan Putusan KI Jabar, Ancam Gugat ke PTUNHUT Bhayangkara ke-80, Polres Tasikmalaya Pacu Akselerasi Pelayanan Lewat Optimalisasi Call Center 110
Menurut Pristiyanto, proses tersebut penting agar UMKM tidak hanya mampu menghasilkan produk yang memenuhi standar industri, tetapi juga memahami kebutuhan pasar dan mampu membangun hubungan bisnis yang berkelanjutan.
