JABAR EKSPRES – Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) lakukan analisa iklim global terkini, termasuk mencatat prakiraan cuaca untuk wilayah Provinsi Jawa Barat.
Plt Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Edi Wibowo mengatakan, pihaknya telah menganalisis dan memprakirakan cuaca untuk satu pekan ke depan.
“Berdasarkan analisis iklim global terkini, fenomena El Nino yang ditunjukan oleh indeks Nino 3.4 sebesar +1.11, dan SOI sebesar -26.7,” katanya kepada Jabar Ekspres, Selasa (30/6/2026).
Baca Juga:Musim Kemarau Mulai Melanda Tasikmalaya, Sawah Mengering hingga Warga Antre Air di MasjidLiburan Sekolah Makin Seru! de Braga by ARTOTEL Hadirkan Paket Menginap Plus Wisata Mulai Rp789 Ribu
Edi menerangkan, indeks tersebut yang mengindikasikan potensi pengurangan curah hujan di sebagian wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat.
“Dalam sepekan ke depan, terdapat beberapa dinamika atmosfer yang diprakirakan masih mendukung suplai uap air,” terangnya.
Edi berujar, selain mendukung suplai uap air, dinamika atmosfer yang terjadi juga mendukung pertumbuhan awan konvektif secara lokal di sebagian wilayah Jawa Barat.
“Yaitu suhu muka laut yang masih relatif hangat di sebagian perairan Indonesia, Gelombang Kelvin diprakirakan aktif di atas wilayah Jawa Barat pada dua hari ini,” ujarnya.
Diketahui, Gelombang Kelvin merupakan gelombang atmosfer tropis yang bergerak dari barat ke timur di sekitar wilayah ekuator. Gelombang ini memengaruhi distribusi awan, angin, dan curah hujan.
Sederhananya, gelombang Kelvin bisa dibayangkan sebagai “gelombang gangguan udara” di atmosfer yang membawa area dengan kondisi lebih basah atau lebih kering saat melintas.
Saat gelombang Kelvin aktif, biasanya dapat menyebabkan peningkatan pembentukan awan, suplai uap air bertambah, peluang hujan naik, potensi hujan lebat, petir, atau angin kencang meningkat.
Baca Juga:Bhakti Kencana University Terapkan Ilmu Publisitas Kampanye PR dan Event Lewat “Aksi Cilik Siaga Bencana”Mahasiswa Ilmu Komunikasi Bhakti Kencana University Gelar Clay Calming
Sebaliknya, jika pengaruhnya lemah atau tidak aktif, peluang pembentukan hujan biasanya berkurang.
Meskipun El Nino cenderung mengurangi curah hujan, keberadaan Gelombang Kelvin bisa menjadi salah satu faktor yang tetap memicu hujan di Jawa Barat dalam beberapa hari tertentu.
Disampaikan Edi, pada dinamika atmosfer yang terjadi, kelembapan udara tercatat ada di lapisan 850 sampai 700 milibar (mb), berkisar 30 hingga 95 persen.
“Serta labilitas atmosfer yang bervariasi dari kategori ringan hingga kuat,” bebernya.
Edi menjelaskan, secara umum curah hujan di Jawa Barat cenderung menurun, namun potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih dapat terjadi secara lokal.
