JABAR EKSPRES – Pascakasus dugaan penganiayaan dan penyekapan yang menimpa YTR (29), warga Rancaekek, Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) mengimbau masyarakat, khususnya kalangan remaja, untuk lebih bijak dan waspada dalam menggunakan media sosial.
Korban diketahui berkenalan dengan pelaku, Taufik Hidayat (30), melalui dunia digital pada awal 2024. Hubungan keduanya kemudian berlanjut menjadi pacaran hingga tinggal bersama di sebuah kamar kos. Sejak saat itu, korban diduga mengalami penyekapan dan kekerasan fisik secara berulang hingga Juni 2026.
Kepala Diskominfo Kabupaten Bandung, Teguh Purwayadi, mengatakan peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa ruang digital memiliki berbagai risiko yang harus dipahami masyarakat, terutama generasi muda.
Baca Juga:RSHS Jelaskan Luka YTR Cukup Berat Usai Dianiaya dan Disekap Taufik Hidayat Terungkap! Taufik Hidayat Tega Aniaya dan Sekap YTR Sejak Mei 2024
“Kami di Pemerintahan Kabupaten Bandung sangat prihatin atas kejadian yang menimpa saudara kita. Adik-adik remaja ini adalah ‘tunas bangsa’ yang harus kita jaga bersama, baik fisiknya, mentalnya, maupun jejak digitalnya,” ujar Teguh, Senin (29/6/2026).
Menurutnya, media sosial seharusnya dimanfaatkan sebagai ruang untuk belajar, berkreasi, dan membangun relasi positif, bukan menjadi ruang yang membuat seseorang lengah terhadap ancaman kejahatan.
“Media sosial sejatinya adalah ruang untuk berkreasi dan belajar, bukan ruang yang bebas dari risiko keamanan. Jadikan prinsip ‘Saring sebelum Sharing’ sebagai kebiasaan. Ingat bahwa profil di media sosial bukanlah cerminan utuh dari karakter asli seseorang. Tetaplah skeptis yang sehat dan utamakan keselamatan diri,” katanya.
Teguh menilai salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan remaja adalah terlalu mudah mempercayai orang yang baru dikenal melalui media sosial.
Kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan atau oversharing juga dinilai meningkatkan risiko menjadi korban kejahatan digital.
“Kesalahan yang paling sering terjadi adalah oversharing atau terlalu cepat mempercayai orang baru. Remaja kita kerap membagikan data privat seperti lokasi real-time, alamat, hingga kontak pribadi di ruang publik digital,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keinginan memperoleh pengakuan sosial atau fear of missing out (FOMO) juga membuat remaja rentan menjadi korban manipulasi psikologis, termasuk praktik catfishing.
