Terik panas matahari yang membakar aspal dan batu kricak di sepanjang rel kereta api di Kota Banjar, tak menyurutkan pria berseragam cokelat berbalut ban lengan bertuliskan “Bhabinkamtibmas Kelurahan Hegarsari” itu untuk menjalankan tugas dan pengabdiannya sebagai pengayom masyarakat.
Cecep Herdi, Banjar, Jabar Ekspres
SUARA bising knalpot kendaraan bermotor yang mengeluarkan kepulan asap polusi, berpadu dengan riuh aktivitas warga yang menciptakan simfoni hiruk-pikuk serta kepungan hawa panas, tak melemahkan pria tersebut untuk tetap berdiri kokoh serta fokus tertuju pada jalur besi yang membentang.
Pria yang ternyata bernama Aipda One Suherman itu bukan sedang menghalau demonstran, bukan pula tengah mengejar pelaku kriminal, namun tegap berdirinya itu dilakukan demi keselamatan warga.
Baca Juga:BPBD Kabupaten Bogor Prediksi Puncak Kekeringan Terjadi Agustus-SeptemberKapolda Jabar Cup 2026 : Sempat Tertinggal, Tim Voli Polres Tasikmalaya Menang Telak 3-0 di Laga Perdana
Pria yang akrab disapa Bang One itu tengah berupaya melindungi keselamatan jiwa-jiwa yang kerap abai akan bahaya mengintai dari ‘si ular besi’ bergemuruh dengan kecepatan yang siap menghantap siapa saja penghalang dihadapannya.
Bang One adalah anggota Polisi yang bertugas di Polsek Pataruman sebagai Bhabinkamtibmas Kelurahan Hegarsari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, Jawa Barat. Namanya mungkin tak akan pernah dipahat di tugu peringatan sebagai pahlawan besar. Namun bagi warga di sekitar Stasiun Banjar, ia adalah “benteng terakhir” yang menghalau maut dari rel kereta api.
Sentuhan Lembut di Jalur yang Keras
Setiap pagi dan sore, saat kebanyakan orang bersiap memulai hari atau bergegas pulang ke rumah, Bang One justru memulai ritualnya. Ia menyusuri jalur rel dari ujung ke ujung. Langkah boots-nya dengan setia mengikuti alur besi panjang yang membelah area padat pemukiman, jalur yang celakanya kerap dijadikan ‘jalan tikus’ oleh warga setempat.
Tak jarang, jantungnya berdegup kencang saat melihat anak-anak kecil asyik bermain layangan di atas bantalan rel, atau seorang ibu yang menyeberang dengan tergesa-gesa sembari menggendong belanjaan, mengabaikan palang pintu yang sudah tertutup rapat.
“Dek, jangan bermain di jalur kereta ya, berbahaya! Ini bukan tempat bermain,” seru Aipda One kepada beberapa bocah yang kedapatan asyik bermain layang-layang di atas rel, Jumat (19/6/2026).
