“Sebelum 2015 masih ramai. Sekarang setelah ada kendaraan online, terus ditambah ada jalanan satu arah, banyak trayek bertemu di titik yang sama, jadi persaingannya makin banyak,” kata Latif saat ditemui di kawasan Stasiun Bogor, Kamis (18/6/2026).
Kondisi tersebut pun diakuinya turut memengaruhi pendapatan sopir. Latif mengaku uang yang dibawa pulang setelah memenuhi setoran dan biaya operasional terkadang hanya berkisar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per hari saat penumpang sepi.
Meski demikian, ia mengakui bahwa angkot masih dibutuhkan masyarakat. Menurutnya, banyak warga yang tinggal di pinggir jalan atau memiliki perjalanan jarak pendek masih lebih memilih menggunakan angkot karena lebih praktis dan mudah dijangkau tanpa harus memesan kendaraan melalui aplikasi.
Baca Juga:Dishub Kota Bogor Siap Pilok Angkot Tua yang Nekat Beroperasi, Pelanggar Berulang Terancam DikandangkanDishub Kota Bogor Bentuk Tim Khusus Penertiban 1.700 Angkot Tua, SK Sedang Difinalisasi
Setiap harinya bahkan diakui Latif masih ada penumpang yang menggunakan angkot untuk kebutuhan mobilitas harian, meski jumlahnya tidak seramai dulu.
“Kalau angkot di Bogor masih dibutuhkan. Banyak penumpang rumahnya di pinggir jalan, terus yang jaraknya dekat itu kan lebih gampang pakai angkot. Belum tentu mereka mau atau bisa naik transportasi aplikasi, jadi ya sampai sekarang setiap hari masih ada aja penumpang,” ujarnya.
Meski jumlah penumpang terus menurun, para sopir berharap keberadaan angkot tetap diperhatikan pemerintah, mengingat moda transportasi tersebut masih dibutuhkan sebagian masyarakat sekaligus menjadi sumber penghidupan mereka.
Mereka juga berharap setiap kebijakan penataan angkutan umum yang dijalankan pemerintah dapat mempertimbangkan kebutuhan warga serta keberlangsungan mata pencaharian para sopir yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari angkot.
