Langkah ketiga adalah mengembangkan pasar bullion nasional. Saat ini perdagangan emas Indonesia masih relatif dangkal dibanding Singapura atau Dubai. Indonesia perlu memperkuat peran bursa emas, lembaga kliring, refinery berstandar internasional, serta sistem sertifikasi yang diakui dunia. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya menjadi tempat penyimpanan, tetapi juga pusat transaksi emas regional.
Langkah keempat adalah menciptakan kepastian hukum dan regulasi yang kompetitif. Banyak negara memilih Singapura bukan karena biaya penyimpanannya murah, tetapi karena kepastian hukumnya tinggi. Indonesia perlu memberikan perlindungan hukum yang jelas terhadap kepemilikan emas asing, termasuk mekanisme penyelesaian sengketa yang kredibel dan dapat dipercaya oleh komunitas internasional.
Langkah kelima adalah memperkuat posisi Jakarta sebagai pusat keuangan internasional. Pengembangan kawasan keuangan modern, integrasi sistem pembayaran lintas negara, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sektor keuangan menjadi bagian penting dari strategi besar tersebut. Menjadi pusat penyimpanan emas tidak bisa berdiri sendiri; ia harus didukung oleh ekosistem keuangan yang kuat.
Baca Juga:31.548 Sertifikat Halal untuk Desa WisataETLE Gunakan Biometrik Wajah
Di samping manfaat ekonomi langsung, terdapat keuntungan strategis yang jauh lebih besar. Jika Indonesia berhasil menjadi lokasi penyimpanan emas bagi negara-negara lain, maka posisi Indonesia dalam arsitektur keuangan global akan meningkat secara signifikan. Negara yang dipercaya menyimpan aset strategis internasional umumnya memiliki premi risiko yang lebih rendah, biaya pinjaman yang lebih murah, dan daya tarik investasi yang lebih tinggi.
Kepercayaan internasional semacam ini pada akhirnya dapat membantu memperkuat rupiah dan memperluas peran Indonesia dalam kerja sama moneter regional. Dalam jangka panjang, Indonesia bahkan dapat menjadi pusat perdagangan emas dan logam mulia terbesar di Asia Tenggara, melengkapi perannya sebagai kekuatan ekonomi terbesar di kawasan.
Tentu saja, jalan menuju tujuan tersebut tidak mudah. Indonesia harus bersaing dengan Singapura, Dubai, Hong Kong, dan Swiss yang telah lebih dahulu memiliki reputasi internasional. Namun sejarah menunjukkan bahwa pusat keuangan dunia selalu berubah mengikuti pergeseran ekonomi global. Ketika pusat gravitasi ekonomi dunia bergerak ke Asia, peluang bagi Indonesia untuk memainkan peran yang lebih besar juga semakin terbuka.
