Dari Pemeriksaan hingga Operasi, JKN Dampingi Pengobatan Parida

Peserta JKN
Parida (28), warga Langensari, Kabupaten Sukabumi menjadi peserta JKN sejak masih duduk di bangku sekolah dasar atau sejak masa Askes.
0 Komentar

JABAR EKSRES – Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan terus memberikan perlindungan kesehatan bagi masyarakat, termasuk dalam penanganan penyakit yang membutuhkan tindakan operasi dan pengobatan berkelanjutan. Melalui sistem pelayanan berjenjang, peserta dapat memperoleh pelayanan medis sesuai indikasi tanpa harus terbebani biaya pengobatan.

Manfaat tersebut dirasakan langsung oleh Parida (28), warga Langensari, Kabupaten Sukabumi, yang telah menjadi peserta JKN sejak masih duduk di bangku sekolah dasar atau sejak masa Askes. Ia sempat terdaftar dalam segmen Pekerja Penerima Upah (PPU) saat bekerja di sebuah perusahaan dan saat ini kembali menjadi peserta segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI).

Pengalaman yang paling membekas bagi Parida adalah saat dirinya harus menjalani operasi akibat benjolan di bagian leher. Awalnya, ia menyadari muncul benjolan yang tidak menimbulkan rasa sakit, namun cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

Baca Juga:Luncurkan AIcosystem, Telkom Siap Garap Peluang AI di Berbagai Sektor IndustriYBM BRILiaN Region 9 Bandung Salurkan Beasiswa Komprehensif untuk Ratusan Pelajar dan Mahasiswa

“Saat itu tiba-tiba ada benjolan di leher. Tidak sakit, tapi cukup mengganggu, jadi saya memutuskan untuk periksa ke faskes tingkat pertama,” ujar Parida, Kamis (21/05).

Parida menduga benjolan tersebut berkaitan dengan kondisi gigi karena sebelumnya ia sempat mengalami masalah gigi berlubang hingga harus menjalani pencabutan gigi. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan dan rontgen oleh dokter, hasilnya menunjukkan bahwa benjolan tersebut bukan disebabkan oleh masalah gigi.

“Setelah di-rontgen ternyata kondisi gigi saya baik-baik saja dan bukan jadi penyebab benjolan itu. Akhirnya saya langsung dirujuk ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut,” jelasnya.

Di rumah sakit, Parida menjalani serangkaian pemeriksaan lanjutan sebanyak beberapa kali sebelum dokter memastikan bahwa benjolan tersebut harus ditangani melalui tindakan operasi karena mengarah pada gejala tumor jinak.

“Dokter sempat melakukan pemeriksaan beberapa kali untuk memastikan kondisi saya. Setelah itu baru diputuskan harus operasi,” tuturnya.

Sebelum menjalani operasi, Parida terlebih dahulu menjalani rawat inap selama kurang lebih tiga hari untuk proses observasi dan persiapan tindakan medis. Setelah operasi selesai, ia juga masih menjalani rawat jalan sebagai bagian dari proses pemulihan.

0 Komentar