Selain memperkuat sektor produksi gula, proyek tersebut mulai memunculkan dampak ekonomi langsung di tingkat lokal. Aktivitas pembangunan kawasan ikut menggerakkan ekonomi desa melalui pengolahan lahan, distribusi sarana produksi pertanian, penyerapan tenaga kerja, hingga aktivitas jasa penunjang lainnya.
Kepala Cabang Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Ockie Castrena Yuliawan mengatakan dukungan pembiayaan terhadap program KBD menjadi bagian dari komitmen sektor perbankan dalam memperkuat sektor riil berbasis pertanian produktif.
“Kami melihat program ini memiliki multiplier effect yang besar. Ketika kawasan berkembang, maka perputaran ekonominya juga akan tumbuh, mulai dari petani, tenaga kerja, pelaku usaha lokal, sampai sektor industri,” ujar Ockie.
Baca Juga:Tumbuhkan Budaya Menabung Sejak Dini, BRI Gelar Edukasi Literasi Keuangan "Aku Hebat, Suka Menabung"Telkom Solution Siap Dorong Transformasi Digital BUMN
Ia menilai sektor perkebunan tebu memiliki prospek ekonomi jangka panjang karena tidak hanya menghasilkan komoditas pangan strategis, tetapi juga mampu menciptakan rantai ekonomi yang melibatkan banyak pihak.
Di sisi lain, pemerintah terus mendorong transformasi sektor gula nasional melalui berbagai program seperti bongkar ratoon, perluasan areal tanam, penguatan benih unggul, revitalisasi pabrik gula, hingga pengembangan kawasan tebu berbasis kemitraan.
Langkah itu dilakukan karena produktivitas tebu nasional masih tergolong rendah dibanding negara produsen gula utama dunia. Sementara kebutuhan gula nasional terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan kebutuhan industri makanan serta minuman.
Karena itu, pembangunan KBD di Majalengka dipandang sebagai salah satu strategi jangka panjang untuk memperkuat rantai pasok gula nasional dari sektor hulu hingga hilir.
Tak hanya berdampak pada ekonomi makro, program tersebut juga mulai memberikan manfaat sosial bagi masyarakat sekitar. Pembangunan kawasan mampu menyerap tenaga kerja lokal, meningkatkan aktivitas ekonomi desa, serta memperkuat peran koperasi dan kelompok tani dalam industri tebu modern.
Maulana menilai pola kemitraan antara koperasi, petani, perbankan, dan industri menjadi kunci penting dalam pengembangan perkebunan modern di Indonesia.
“Kalau sektor hulunya kuat, pembiayaannya ada, industrinya siap menyerap, dan petaninya dilibatkan, maka pembangunan tebu bisa menjadi motor ekonomi baru di daerah,” katanya.
Baca Juga:Kokohkan Jejaring Global, Darul Hikam Buat MoU dengan Empat Kampus Ternama Turki“Suamiku Lukaku” Jadi Suara Perempuan Korban KDRT, Ajak Penyintas Berani Bicara dan Melawan
Ke depan, kawasan pengembangan tebu di Majalengka juga diproyeksikan membuka peluang pengembangan industri turunan seperti bioetanol dan energi terbarukan. Dengan meningkatnya kebutuhan pangan dan energi nasional, sektor tebu dinilai akan semakin strategis dalam menopang ketahanan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
