Sadam Husen Soleh Ramdhani, Jabarekspres
Suara palu, debu yang beterbangan, dan serpihan material yang berserakan menjadi pemandangan yang sulit dilupakan seorang pedagang kaki lima di kawasan Cicadas, Kota Bandung. Pagi itu, tempat yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan keluarganya perlahan hilang dari pandangan.
Lapak sederhana yang biasa ia tempati untuk mencari nafkah sehari-hari dirobohkan dalam penertiban kawasan. Bersamaan dengan itu, ada kekhawatiran yang lebih besar: bagaimana esok hari ia harus membawa pulang uang untuk kebutuhan rumah.
Pedagang tersebut meminta identitasnya tidak disebutkan. Dengan suara pelan, ia mengaku masih sulit menerima kenyataan bahwa tempat usahanya kini tinggal kenangan.
Baca Juga:Sokoguru Policy Forum Bahas Strategi Ketahanan dan Transisi Energi NasionalDua Maling Gasak Sepeda Motor di Gunung Putri Bogor, Lepaskan Tembakan Saat Kabur
“Sedih pasti. Ini tempat saya cari makan setiap hari. Sekarang sudah tidak ada,” ujarnya lirih, saat ditemui Jabarekspres, Rabu (20/5).
Bukan semata soal bangunan sederhana yang berdiri di pinggir jalan. Bagi dirinya, lapak itu adalah ruang perjuangan. Dari sana kebutuhan rumah tangga dipenuhi, tagihan dibayar, dan kebutuhan anak-anak diusahakan sedikit demi sedikit.
Ia mengaku tidak menolak jika pemerintah ingin menata kawasan. Namun yang membuat hatinya terasa lebih berat adalah perasaan tidak dilibatkan.
Menurut pengakuannya, dirinya tidak pernah mendapat informasi sosialisasi secara langsung ataupun dilibatkan dalam pertemuan terkait rencana penertiban.
“Tahu-tahu sudah ada penertiban. Kami bingung. Kalau memang mau ditata, setidaknya diajak bicara,” katanya.
Ia bercerita, selama bertahun-tahun para pedagang menjalankan usaha dengan segala keterbatasan. Ada yang berjualan makanan, minuman, hingga kebutuhan sehari-hari. Sebagian menggantungkan seluruh pemasukan keluarga dari lapak kecil yang berdiri di kawasan tersebut.
Kini, setelah lapaknya hilang, hari-hari terasa lebih berat. Tidak ada lagi tempat tetap untuk berjualan. Tidak ada kepastian kapan bisa kembali memiliki ruang usaha. Yang tersisa hanya kecemasan.
“Kalau lapak hilang, kami harus mulai dari mana lagi?” ucapnya.
Baca Juga:Soal Ulat di Menu MBG, Komisi IV DPRD Tasikmalaya: Mengecewakan! Makan Bergizi Tapi Tidak HigienisPermudah Akses Masyarakat, Pemkab Tasikmalaya Wujudkan Transformasi Digital
Di tengah upaya pemerintah menata wajah kota agar lebih tertib dan nyaman, ada cerita lain yang berjalan bersamaan. Cerita tentang pedagang kecil yang harus menahan kehilangan, tentang orang-orang yang merasa tidak memiliki ruang untuk menyampaikan suara, dan tentang harapan sederhana agar kebijakan yang hadir tidak hanya bicara soal penataan ruang, tetapi juga memberi tempat bagi mereka yang menggantungkan hidup di dalamnya.
